Novel Dewasa CMD - Pagi mulai menyapa, suara lantunan ayat suci Al-Qur'an menjelang subuh mulai terdengar dari musala.Kurenggangkan tubuh yang akhir-akhir ini terasa kayak babak belur. Diperlakukan seperti guling sama dia yang saat ini masih mendengkur.
              
Katanya, orang yang lagi tidur itu kelihatan manis, tapi menurutku tidak. Irfan jelek kalau lagi tidur. Mulutnya menganga. Kadang, ada aroma yang menusuk hidung di pagi hari, sebab sebelum tidur lupa tidak gosok gigi. Bukan lupa, sih. Lebih tepatnya tidak sempat lagi. Alasannya selalu klise. You know lah ....
            
Tapi bagaimana pun dia, aku tetap cinta. Bahkan cintaku tambah subur dengan perlakuan manjanya. Aneh, kan? Memang.


                    
Ada kalanya juga merasa, jika hubungan kami ini sedikit rumit. Aku berharap untuk dimanja, tapi malah dituntut buat manjain dia. Ingin dilindungi, malah aku yang harus melindungi.


                    
Ingatanku melayang pada kejadian tadi malam, soal panggilan tidak terjawab dan chat di ponsel Irfan.


                    
Aku harus mengecek lagi. Meraih benda pipih keramat yang bisa jadi sebuah petaka jika tidak digunakan dengan bijak tersebut di atas nakas, sebelah Irfan.
Dia bahkan tidak terbangun dengan gerakanku yang sedikit menindih tubuhnya. Lelap sekali.


                    
Kugoyangkan jari jempol, langsung menuju aplikasi berwarna hijau gambar telepon.
Mencari chat paling atas. Dahiku mengernyit, karena tidak menemukan chat dengan nama 'Tiara'. Wah, dihapus? Mencurigakan.


                    
Kucari kontak bernama Tiara tersebut, dan ketemu. Gambar profilnya wanita berparas ayu, yang memakai pagar kawat di gigi. Tubuhnya sedikit gemuk, tapi tetap saja kelihatan cantik.


                    
Sebelas dua belas lah sama aku cantiknya, walau kuakui dia lebih muda. Ah, kenapa hatiku terasa panas begini?


                    
"Fan, Irfan! Bangun!" Kutepuk-tepuk pipi Irfan. Daripada sibuk berpikir dan berprasangka, lebih baik aku bertanya.


                    
"Hemmm ... apaan, Kak. Belum azan." Dia bergumam dengan mata yang masih terpejam.


                    
"Bangun ... aku mau nanya." Kali ini kupencet hidungnya.


                    
Aku bukanlah tipe istri yang suka menyelidiki di belakang. Lebih baik nanya langsung dan minta kejujuran. Kalau tidak jujur, ya ... tanyain aja terus sampai ngaku. Pakai jurus mengancam jika perlu.


                    
"Huahh! Aku nggak bisa napas ini. Apaan, sih?" Dia nanya dengan nada sengau, karena hidungnya kupencet.


                    
"Siapa Tiara?" Kulepaskan tanganku, lalu memicing.
Dengan tubuhku yang kini bersandar di kepala ranjang.


                    
Irfan mengucek mata. Ikutan bangun. Duduk sambil mengerjap-ngerjap, karena masih ngantuk. Raut wajahnya berubah kaget saat melihat aku memegang ponselnya.


                    
"Em ... Tiara, siapa?" Dia balik nanya.


                    
"Nggak usah pura-pura. Semalam aku lihat dia telepon juga chat kamu, kan? Belum sempat kubuka terus ada tamu. Tapi kenapa sekarang chat dari dia udah nggak ada? Kamu hapus?" Aku nanyanya mirip seperti Ibu-ibu yang ngomelin anaknya gara-gara ngilangin tupperware.


                    
Tapi, ini kasusnya lebih berat. Aku tidak mau ada orang ketiga dalam hubungan yang baru seumur jahe ini. Tidak mau pokoknya. Harus dibasmi sebelum tunasnya tumbuh menjadi batang. Eh, kok malah bahas jahe beneran?


                            
          
                
"Anu, Kak. Tiara itu temen aku."


"Dia chat apa semalam?" Aku mendesak.


"Di—dia ... dia ...." Irfan gagap.


"Fan ...?" Tiba-tiba tubuhku menjadi panas dingin. Sudah terbaca, Irfan ada main sama yang namanya Tiara itu.
Kalau sekadar teman tidak mungkin, kan, dia segugup itu?
Bukannya emosi, aku malah mau nangis.


"Kak, jangan nangis." Irfan mengelus bahuku, tapi langsung kutepis. Mungkin trauma gara-gara Revan, dan salah paham saat bersama bi Indah, membuatku jadi sensitif dan curigaan.


"Siapa Tiara?" tanyaku lagi, sedikit emosi. Aku cemburu. Ya, secemburu itu sampai tidak kuat menahan air mata.


"Anu ... dia ...."


"Jawab! atau kubanting hp ini." Ancamanku pelan, tapi tentu bikin dia gelagapan.


Secara, ponsel Irfan ini keluaran terbaru yang dibeliin Mama beberapa waktu lalu. Bertepatan saat hari di mana kami diundang untuk membahas pesta pernikahan. Sebagai hadiah, katanya. Tidak tahu hadiah apa. Karena sebelum dan sesudah resepsi pernikahan kami, Mama sering banget ngasih hadiah.
Tidak tanggung-tanggung, harga ponsel itu tiga kali lipat dari punyaku. Anak manja ketemu orang tua kaya. Ya, begitu.


"Dia yang mau dijodohin sama Irfan dulu." Dia menjawab dengan cepat. Takut ponselnya kubanting.


"Apaa?!"


Hubungan yang baru seumur jahe ini kedatangan ulat bulu, sepertinya. Tiba-tiba naluri keCatwoman-anku muncul. 


Irfan berteriak, meraung, memohon ampun. Bersamaan dengan bulu angsa dari dalam bantal yang menghambur di udara.


..
..


Katanya, cemburu itu tanda cinta. Orang yang mengaku cinta harus punya rasa itu. Kalau tidak cemburu, berarti tidak cinta? Entah.


Yang jelas, saat ini aku tengah merasakan hal tersebut. Cemburu.


Kumainkan jemari di layar benda pipih berharga belasan juta. Bukan milikku, tapi punya Irfan.


Sedang kuamati, analisa dan selidiki. Apa benar, lelaki manjaku itu mulai berani bermain api di belakang? Awas saja kalau ketahuan. Kulaporkan sama Mama. Beliau pasti membelaku. Secara, aku, kan, mantu kesayangan. Sering dibelain di depan Irfan. 


"Kak! Udah selesai!"


Sekilas aku menoleh ke arahnya. Posisiku sedang rebahan di sofa ruang tv, sambil fokus ke layar ponsel.


Sedangkan Irfan, duduk di bawah, sibuk menjahit sarung bantal yang robek di segala bagian akibat kujadikan pelampiasan kemarahanku di pagi buta.


Kucakar, gigit, tendang bahkan kujadikan alat memukul tubuhnya. Aku kesal.


Sekarang, dia yang harus menerima akibatnya. Menjahit robekan yang dia sebabkan. Salah siapa bikin aku emosi. Biarin.


"Sekarang, duduk. Sini!" Kutepuk tempat di sebelahku, setelah merubah posisi menjadi duduk.


Dia menurut. Berjalan dengan kepala menunduk.


        
          
                
Seringkali aku merasa sudah menjadi istri yang jahat, galak, dan membangkang. Tapi bukan seperti itu maksudku. Sungguh.


Tujuanku hanya ingin mengajarinya. Seperti kata Irfan, aku ini wanita dewasa. Sedangkan dia masih labil dan manja. Butuh banyak bimbingan.


"Jawab yang jujur. Semalam, Tiara bilang apa?" Sampai sekarang, pertanyaanku itu belum juga mendapat jawaban. Kuberi waktu Irfan empat jam sejak tadi pagi, untuk mengumpulkan niat membuka rahasia padaku. Dia harus mau mengaku.


"Engg ... anu, Kak." Irfan gugup.


"Jangan anu ... anu mulu, Fan. Jelasin. Kalau enggak, aku anterin ke rumah Mama. Pulang aja, gih, kalau nggak bisa jadi suami yang bertanggung jawab." Aku menggertak. Sebenarnya agak takut juga, gimana kalau dia beneran mau pulang? Jadi janda, dong. Eh, tidak ... dia pasti menolak.


"Jangan, Kak!" Irfan memohon.


Benar, kan? 


"Dia bilang, mau bantu sembuhin Irfan. Dia tahu, kalau Irfan pernah sakit," lanjutnya lagi.


"Sakit?" Aku bingung.


Irfan mengangguk.


"Iya, sakit yang diobatin sama bibi Indah waktu itu." Syukurlah. Kupikir, dia punya penyakit lain lagi.


"Ooh. Eh! Maksudnya? Dia seorang psikolog juga?"


"Iya, dia baru lulus kuliah. Usianya setahun di atasku. Kami kenal cukup lama, karena Papa dan ayahnya dia temenan.


Karenanya, kami dulu sempat dijodohkan. Tiara itu kuliah ambil jurusan psikolog. Katanya, dia mau bantu sembuhin Irfan. Kalau Irfan bersedia ...." Suaranya menggantung.


"Bersedia?" tanyaku.


"Bersedia ...." Ngegantung lagi.


"Ish! Bersedia apa?"


"Bersedia buat nikahin dia." Irfan cengengesan.


"Apaaa?!" 


"Jejj—jejjangannn!!" Irfan berteriak saat aku mulai mengangkat kedua tangan yang menggengam ponsel di salah satunya. Dia kira mau kubanting. Padahal cuma gemes aja pengen mencakar sesuatu.


"Tapi, kan, kamu udah sembuh, Fan!"


"Emang."


"Terus, kamu kasih jawaban apa ke dia?"


"Nggak jawab apa-apa."


"Dia tahu, kan, kalau kita udah menikah?" tanyaku lagi.
Irfan cuma mengangguk.


Ckck. Dasar perempuan aneh, udah tahu Irfan menikah, masih mengejar. Sama aja kayak Revan dan Mas Khairi.


Hufftt!! Kenapa hubungan kami yang masih baru udah banyak godaanya?


Aku menghela napas. Tarik ... embuskan lagi. Gitu terus beberapa kali. Mencoba menenangkan hati. Bisa hipertensi kalau emosi terus.


Lalu mencebik, tiba-tiba saja pengen nangis. Eh, kenapa sensi banget, sih, akhir-akhir ini?


"Kak, jangan nangis, dongg ... perasaan, Kak El sering nangis gara-gara Irfan. Beneran, Kak. Tiara pas bilang gitu nggak Irfan tanggapi." Dia menggenggam tanganku yang masih memegang ponselnya.


"Kamu jahat, Fan. Mentang-mentang udah sembuh, mau selingkuh!" Kuusap air mata dengan punggung tangan.


"Astaghfirullah ... siapa yang mau selingkuh? Irfan nggak selingkuh, Kak."


"Lha itu, Tiara ngajakin kamu nikah! Berarti kamu selingkuh." Cemburu ... aku beneran cemburu.


"Eh, kan, Tiara doang yang ngajakin." Irfan ngeles.


"Kamu mau?" tanyaku.


Yang ditanya cengar-cengir, tengil.


"Irfaaa—"


Cup!


Teriakanku terputus karena sebuah ciuman.


Gitu aja aku udah tersipu. Kupukul lengannya pelan.


"Ya, nggak mungkin lah, Kak. Irfan, kan, sayangnya sama Kak El doang. Mana mau Irfan nikahin Tiara. Ogah."


"Beneran?" Aku ragu, khawatir dia berubah pikiran.


"He em," jawabnya, sambil manggut-manggut.


"Nggak bohong?" 


"Menurut Kakak?"


Hyaaa!!!!


Bikin emosi.


Bug! Bag! Bug! 


Cup! Cup! Cup!


Mataku mengerjap. Irfan semakin agresif sekarang. Jika di awal pernikahan dia yang sering salah tingkah karena kejahilanku, maka sekarang sebaliknya. Dia selalu membuatku tersipu dan berbunga-bunga.


Dering ponsel Irfan menghentikan aksi pukulku yang dibalas kecupannya.
Ada pesan masuk. Seketika aku menjarak dari Irfan, kembali merebahkan diri dengan kedua kaki yang selonjoran di pangkuan dia.


Sengaja aku berbalas chat dengan Tiara, berlagak sebagai Irfan. Menyusun rencana dengan matang.


Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut. Ulat bulu harus segera dibasmi.


"Pesan dari siapa?" Irfan bertanya sembari memilin-milin ujung dasterku. Lalu melongok, meski tidak bakal kelihatan. Ya jelas, layar ponselnya, kan, membelakangi dia.


"Ada deh ...." Aku tersenyum miring.


"Kak!"


"Hemm."


"Pesan dari siapa?" Irfan memiringkan badan, berusaha meraih ponselnya yang kupegang.


Bibirku mencebik lagi. Pura-pura mau nangis. Mirip anak bayi.


"Eehh, ya udah, nggak jadi." Irfan kembali duduk tegak. Sebelah bibirku terangkat. Kuberi kau kejutan, sayang.
Hayukkk, dikomen, yuk. Jan lupaa tinggalin jejak, yaw. 😉 TO BE CONTINUE