"Kamu udah ngantuk?" Pertanyaan yang entah sudah keberapa kalinya kulempar untuk Irfan, dan hanya dibalas dengan gelengan kepala.
Malam ini, kami duduk berdua di ranjang kamar tidurku. Sesuai permintaan Irfan.
Masalahnya adalah, kenapa sekarang aku yang jadi salah tingkah?
Kebiasaan Irfan kini menular padaku. Mendadak, kepala terasa gatal di semua bagian. Apa aku kutuan?
"Bisa nggak, sih, tatapannya itu lihat ke arah lain?" Tatapan Irfan membuatku merasa tidak keruan. Seperti mau diterkam.
"Enggak," jawabnya.
Ah, Irfan. Dia sukses membuatku jadi tambah salting. Mau ngupil juga jadi risih. Kan, dilihatin terus. Padahal, hidung terasa gatel banget sedari tadi.
Di saat kami masih saling diam dengan tatapan Irfan yang semakin membuat suhu tubuhku naik turun, tiba-tiba ponselku berdenting.
Kuraih benda tersebut, lalu membuka aplikasi berwarna hijau. Dahiku berkerut, kutatap Irfan dan layar ponsel secara bergantian.
"Siapa, Kak?" tanyanya, dengan tatapan yang masih terus bertahan.
Ragu-ragu aku menjawab, "Em ... dari ...." Irfan merebut ponselku.
Air mukanya berubah masam. Dia menatapku penuh tanya, lalu men-scroll isi pesan itu ke atas.
Aku cuma bisa mengalihkan pandangan ke segala arah, khawatir jika Irfan marah. Teringat kejadian saat Mas Khairi dan Revan ke sini beberapa waktu lalu. Dia bisa menjadi secemburu itu, dan nekad menciumku.
Terus, kalau dia cemburu di saat kami tengah berdua begini, apa yang akan terjadi?
Jantung ... jangan bertingkah. Tetaplah berdetak seperti biasa.
Pesan barusan dari mas Khairi. Tentu saja, foto Irfan yang berpegangan tangan dengan bibi Indah akan terlihat di atas pesannya yang baru saja masuk. Belum kuhapus.
Kutelan ludah berkali-kali. Mengingat pesan barusan yang berbunyi; 'El, pisah aja dari Irfan. Dia sudah berselingkuh. Aku masih setia menunggumu'.
Aduh, mampus!!
Mas Khairi, sepertinya pesanmu itu akan merubah kucing manjaku menjadi macan.
Genggaman tangan Irfan pada ponsel tampak menguat.
Alih-alih marah, dia malah berdiri. Berjalan menuju arah pintu, lalu memencet saklar lampu.
"Fan, gelap. Kenapa matiin lampu?"
Dia tidak menjawab, hanya suara hentakan kakinya yang mendekat.
"Irfan harus segera buat tanda kepemilikan!"
Hah. Apa katanya?
"Diem, kak. Irfan takut pingsan kalau dalam keadaan terang."
"A-apa, Fan?" Aku tergagap dalam gelap. Tubuhku meremang kala mendapat sentuhan tiba-tiba di tempat yang tak biasa.
Napas kami menderu, hawa dingin yang tiap malam menemaniku kini dihempas oleh panasnya belaian seorang Irfan.
Irfan mendekati sisi kepalaku. Dengan suara parau dia berbisik, "I love you, Sayang ...." Kepalaku berdenyut, merasa kesulitan mencerna kejadian malam ini.
Hingga sebuah lantunan do'a yang Irfan ucapkan membuatku kembali tersadar dan mengerti dengan kata 'anu' yang dia ucapkan tadi. Do'a yang terlantun merdu untuk pertama kalinya. Do'a yang pernah kubaca di dalam buku panduan suami istri.
Di sela pemikiranku yang terombang-ambing, masih sempat terlintas sebuah pertanyaan di dalam benak, apakah Irfan mampu melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami dalam menggauli istri?
Semua terjawab ketika aku memekik sembari menggigit bahunya.
"Sakit, Kak!"
"Aku yang lebih sakit!"
"Oke, maaf."
Lalu setelahnya, dunia serasa hanya milik kami berdua. Oh, bukan. Kamar ini yang hanya milik kami berdua.
...
"Enak nggak, Fan?" tanyaku ke Irfan yang asyik geleng-geleng terus manggut-manggut, merasakan nikmat.
Sesekali mengulum bibir, menyeka sisa kue yang baru saja meluncur bebas ke dalam perutnya.
"Enak, Kak! Lagi."
Kami kelaparan usai menuntaskan hasrat yang tertunda begitu lama. Menikmati kue yang menjadi satu-satunya makanan siap santap. Masih di atas ranjang.
Kata Irfan, aku tidak boleh turun dulu. Dia berjanji akan membopongku setelah kenyang nanti. Kuharap, dia tidak akan menjatuhkanku di kamar mandi.
"Kakak makan juga, dong!" Dia menjejalkan sepotong kue itu ke dalam mulutku, tidak ada romantis-romantisnya.
Kami sudah kembali berpakaian lengkap. Duduk berdua, bersandar di kepala ranjang, makan black forest dan dua kaleng minuman. Sambil tersenyum malu-malu.
...
Perlahan, rasa canggung dan pesimisku mulai memudar. Kami menjalani hari layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Meskipun aku tidak memungkiri sifat kekanakan Irfan, yang kadang menghibur, kadang juga menyebalkan.
Dan entah sejak kapan, aku mulai menerima segala hal yang ada padanya. Bisa dibilang, aku mulai yakin untuk mempertahankan biduk rumah tangga kami. Semoga keputusanku sudah tepat kali ini.
"Tamu undangan, Fotografer udah. Perias ... baju adat juga udah. Apa lagi, ya ...." Aku bergumam dengan pulpen yang kuketuk-ketuk di meja. Duduk bersila di ambal ruang tv, mencatat keperluan jelang resepsi pernikahan kami.
Iya, benar. Kalian tidak salah baca, RE-SEP-SI pernikahan kami. Yang akan dilaksanakan di rumah mertuaku.
Seminggu setelah kejadian malam gelap-gelapan itu, Mama dan Papa meminta kami datang ke rumah mereka.
Mereka mengatakan agar kami segera meresmikan pernikahan secara hukum negara. Juga sebagai bentuk pengumuman, mereka ingin mengadakan pesta besar. Mereka khawatir aku keburu hamil sebelum acara itu digelar. Tahu dari mana, coba, kalau aku bakalan hamil?
Ckck, Irfan ...!
Niat untuk berpisah batal total. Selain karena aku beneran cinta, itu anak juga udah beneran normal. Jadi, tidak ada lagi alasan.
Bukankah perceraian itu satu hal yang Allah benci? Meskipun, terkadang, perceraian menjadi satu-satunya solusi bagi pasangan lain yang tertimpa masalah. Sedangkan kami tidak memiliki alasan syar'i untuk melakukan hal tersebut.
Bisa kubayangkan, betapa meriahnya pesta nanti. Mengingat mertuaku seorang pengusaha kopi yang lumayan sukses. Relasi bisnisnya menyebar luas sampai ke luar Provinsi.
Sedangkan tamu yang kuudang mungkin hanya seperempat tamu mereka.
Mama memintaku untuk memilih bebas konsep pesta pernikahan kami. Memilih perias terbaik di kota ini. Ah, Mama ... dirimu luar biasa.
"Aw!" pekikku, saat lagi-lagi tangan jahil itu bergerak bebas seenaknya.
Gerah rasanya, sedang sibuk berpikir tapi ditempelin sosok kasat mata di belakangku. Bukan dedemit, tapi suami cemenku. Yang sekarang berubah menjadi si imut juga memesona.
"Mandi sana, Fan. Nemplok mulu kayak cicak." Kurasakan tubuh berkeringat bukan karena lelah bekerja, akan tetapi karena sosok di belakangku ini sudah entah berapa jam merenggut udara bebas dari pori-pori tubuh. Membuat gerah. Seolah tidak rela melihatku menganggur seorang diri.
"Bentar lagi, Kak." Dia bergumam dengan kepala terbenam di punggungku. Tangannya memilin-milin ujung rambut yang kugerai.
"Gerah, Fan. Jauhan dikit, kek!" perintahku yang sudah berulang kali, tapi tetap tidak digubris.
"Kak, nanti nggak usah undang Revan sama Khairi, ya?" pintanya. Bukannya menurut, malah nawar.
Lihat, dia bahkan tidak lagi menggunakan kata sapaan untuk mereka. Udah merasa dewasa.
"Kenapa?"
Aku menoleh untuk mencari tatapannya.
"Aku nggak suka sama mereka."
"Cemburu?"
Irfan mencebik sambil mengangkat bahu.
"Ck, dasar! Kekanakan!" Kusentil dahinya.
"Aduh! KDRT ini, kak," gumamnya, sambil mengelus dahi.
"Gitu doang, udah kesakitan. Lagian, masa iya mereka nggak diundang gara-gara kamu cemburu? Nggak mungkin, lah." Aneh, kan. Masa gara-gara cemburu sampai tidak mengundang mereka yang sudah kuanggap sahabat sejak dulu.
Meski sebenarnya, sampai saat ini aku juga masih merasa bersalah. Terutama sama Mas Khairi.
"Iya, Deh ... iya. Tapi awas ya, kalau sampai Kak El genit-genit sama mereka pas salam-salam di pelaminan nanti. Pake kaos tangan. Biar nggak sentuhan sama non mahram!" titahnya.
Aku tersenyum. Irfan kadang-kadang lucu juga kalau cemburu.
Semakin semangat kalian komen, semakin semangat juga aku updatenya.
Wahai para silent rider, tunjukan pesonamu!
Eh, tunjukan keberadaanmu. 😆
Spam kalau perlu, bacanya berulang-ulang biar viewnya nambah.
Plakk!!!
Maknya Irfan banyak mintanya.
Biarin!!! 😝😝
PERINGATAN KONTEN DEWASA
Situs ini berisi materi dewasa yang mungkin tidak sesuai untuk semua pengguna. Jika Anda di bawah umur atau tidak ingin terpapar dengan konten dewasa, silakan tinggalkan situs ini sekarang.

0 Komentar