Novel Dewasa CMD - Di sepanjang perjalanan, pikiran dan hatiku campur aduk. Rasa penasaran serta gejolak amarah begitu membuncah dalam dada. Kutarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu mobil. Lalu, kupandang rumah mewah berlantai dua di depan mata. Bersiap menghadapi kenyataan kalau memang benar Irfan selingkuh dariku.
Tapi, mungkinkah?
Kupencet bel berulang kali, tapi tidak ada respon.
"Assalamu'alaikum ...," ucapku. Masih tidak ada jawaban.
Kubuka pintu, ternyata tidak dikunci.
"Ma ...." Kupanggil mama sambil menyisir seluruh ruangan. Tetap sama. Tidak ada jawaban.
Hingga kudengar suara tawa berderai dari arah belakang. Sepertinya, suara itu berasal dari arah kolam renang.
Kudatangi sumbernya. Semakin dekat, suara itu semakin jelas. Itu bukan suara Mama, tapi suara Irfan dan ... seorang wanita.
"Boleh, Fan. Tentu saja boleh," ucap wanita itu.
Kulihat, mereka berdua tengah duduk di tepi kolam. Berduaan, saling berhadapan.
Dari postur tubuh wanita itu, aku yakin, dia orang yang sama dengan di foto kiriman Mas Khairi.
Wajah Irfan tampak kemerahan. Entah karena malu atau sebab terik matahari yang menerpa wajah putihnya itu.
Irfan menatap si wanita lalu berkata, "i love you".
Deg!
Dia bahkan belum pernah berkata semanis itu padaku. Irfan ... benarkah dia ...?
"Eh, Sayang ...," panggilan Mama mengejutkan aku yang tengah berkubang nestapa. Meratapi nasibku diselingkuhi untuk yang kedua kalinya.
Kutatap mama mertua yang selama ini kusanjung-sanjung. Nyatanya, dia membiarkan wanita lain berduaan dengan suamiku.
"Ma ... El permisi." Kutinggalkan Mama dengan wajahku yang beruraian air mata.
"Nak ... tunggu dulu ...." Mama memanggil ketika aku sudah mencapai pintu keluar. Sempat terdengar Irfan juga meneriakkan namaku.
Ish! Jahat kamu, Fan.
Eh tapi, bukankah aku sudah berkeinginan untuk berpisah? Lantas, kenapa sekarang merasa marah dan kecewa saat tahu dia berselingkuh?
Pikiranku kalut. Antara gelisah, marah dan cemburu.
Sesampainya di rumah, kubuka pintu dengan tangan gemetar. Rasa seperti saat dikhianati Revan kembali datang. Meski cinta untuk Irfan masih begitu abu-abu, tetapi sungguh ... aku teramat kecewa, karena dikhianati. Lagi.
Aku mengurung diri di kamar, menenggelamkan wajah di bantal, menangis sepuasnya. Hatiku belum sembuh sepenuhnya, dan kini kembali terluka.
Beberapa saat kemudian ....
"Kak ... Kak El ...." Irfan menggedor pintu kamar.
Jika ditanya saat ini apa yang aku inginkan, maka jawabannya adalah, ingin menjauh dari Irfan, dan tidak sudi melihat wajahnya.
"Kak ... buka pintu, please! Aku tahu Kakak di dalam." Lagi, dia memohon.
Aku bergeming. Menutup kedua telinga sambil terisak.
"Kak!" Irfan masuk. Suara derit pintu tetap menembus telapak tanganku yang menutup telinga.
"Kak El ...." Kenapa dia terus memanggil namaku?
Sebenarnya aku rindu. Sungguh. Akan tetapi, ada rasa sakit juga di dalam sini, yang mengalahkan rasa rindu itu menjadi kecewa.
Aku menelengkan kepala untuk menatapnya, sesekali pandanganku mengabur terhalang air mata.
"Ngapain kamu ke sini?" tanyaku, dengan suara bergetar. Cairan di dalam hidung membuat suaraku seperti berdengung.
"Kak ... Irfan ...." Suaranya menggantung.
"Kenapa? Mau minta maaf?" tanyaku ketus.
"I-iya. Eh, itu ...."
"Nggak perlu. Yang jelas, kita akan segera bercerai." Aku beringsut, turun dari ranjang dengan kaki yang berhentak keras.
"Keluar!" Kuperintah sambil mendorong tubuhnya.
"Nggak bisa, kita nggak akan bercerai." Dia memohon.
"Akan!" Aku terus mendorong tubuhnya yang lumayan berat itu.
"Dengerin Irfan dulu, Kak." Dia menahan pijakan kakinya.
Tidak habis akal, kuinjak kakinya, lalu mendorong kuat-kuat saat dia mengaduh.
"Keluar!" teriakku lebih keras.
Lalu ....
Apa ini ... Irfan memelukku? Jangan-jangan, nanti dia pingsan lagi.
Aku bergeming. Mendengar detak jantungnya yang begitu kuat bertalu. Amankah? Bagaimana kalau dia kena serangan jantung nanti?
"Jangan tinggalin Irfan, Kak," pintanya.
Irfan beneran tidak pingsan. Kucoba untuk mengendurkan pelukan. Tetapi susah, karena terlalu kencang.
"Lepasin! Buat apa lagi kita bertahan. Bukankah kamu udah punya wanita lain, hah?!" Aku mendongak. Kini tatapan kami saling bertemu.
Dahi Irfan berkerut.
"Wanita lain?" tanyanya.
Aku mendengkus.
"Iya! Wanita lain. Kamu udah selingkuh dariku, Fan. Ceraikan aku sekarang juga!" Aku memekik. Kudorong tubuh Irfan karena saat ini pelukannya merenggang.
"Tapi, Kak--" Belum sempat dia mengelak, aku menutup pintu. Tidak sudi mendengar alasan apa pun atas perselingkuhannya. Hatiku terlanjur sakit.
"Pergi, Fan. Pulang sana ke rumah Mama." Pelan kukatakan itu di balik pintu. Terisak, lalu kembali ke ranjang. Bergelung selimut, menutup seluruh tubuh termasuk kepala.
Beberapa saat kemudian pintu kembali terbuka. Ah, benar. Aku tadi lupa tidak mengunci pintu. Bodohnya ....
"Kakak salah paham," ucapnya, setelah duduk di sisi tempatku bergelung.
Sejenak aku berpikir, salah paham?
Kusibak selimut lalu menoleh ke arah dia. Mengganti posisi menjadi duduk bersandar di kepala ranjang.
Kugosok ujung hidung dengan punggung jari telunjuk. Jangan tanyakan sisi kekanakanku yang ingin keluar saat ini. Karena aku juga tidak tahu.
"Salah paham?" tanyaku, ingin memastikan.
Irfan mengangguk.
"Kakak marah gara-gara lihat Irfan berduaan tadi, kan?" tanyanya.
Aku sedikit gugup. Mau tidak mau harus mengakui jika itu memang benar adanya. Cemburu.
"Hemmm." Kujawab singkat, karena gengsi.
"Dia itu Bi Indah. Bibinya Irfan."
"Bibi?" tanyaku, heran.
Irfan mengangguk lagi.
"Iya, dia adik bungsunya Papa yang tinggal di Banda Aceh. Sewaktu kita nikahan, dia nggak bisa dateng. Kebetulan kedua anaknya ingin pergi liburan, sekalian nengokin kita," terangnya.
Duh, Gusti! Ini apa maksudnya? Irfan bermesraan dengan bibinya sendiri?
"Fan ... kamu?"
Alisku bertaut. Kesulitan mencerna apa yang sudah Irfan katakan.
"Bibi seorang psikolog, Kak. Mama minta bibi buat lanjutin terapi Irfan yang belum seratus persen selesai, dulu."
"Jadi ....?"
"Irfan menjalani terapi sama Bibi. Biar bisa sentuh Kakak seutuhnya."
Seutuhnya?
"Maksud kamu?" Pura-pura bego kayaknya ide yang bagus daripada mengakui kesalahpahaman ini. Malu, kan?
"Jadi, Irfan sudah dua minggu ini diterapi sama Bibi Indah. Seminggu yang lalu Irfan santai jalaninya. Tapi setelah waktu yang cuma seminggu Kakak kasih, Irfan jadi lebih giat. Makanya nginep di rumah Mama aja. Bibi juga, kan, menginap di sana."
"Terus ngapain bilang-bilang I love you segala?" Aku masih tidak terima.
"Ya, kan, itu latihan." Garuk-garuk kepalanya Irfan kumat lagi.
Kunaikkan sebelah alis, menuntut jawaban lebih darinya.
"Buat bilang ke Kakak. Pas anu ...." Dia gerogi.
"Anu ...?" Aku tidak mengerti.
"Iya, anu. He he he ...."
"Assalamu'alaikum ...."
Suara salam menghentikan aksiku mengorek kata 'anu' dari Irfan. Bergegas menuju pintu depan setelah menghapus sisa air mata. Kujawab salam bersamaan dengan terbukanya pintu.
"Mama ...." Kusalami mama mertuaku itu. Di sebelahnya ada wanita yang disebut Irfan Bibi Indah tadi. Aku tersenyum kikuk pada beliau. Malu.
"Oohh ... jadi ini, Elyana. Yang sudah bikin keponakanku tergila-gila. Semalaman nggak bisa tidur, kuliahnya juga libur, semangat untuk sembuh biar--"
"Bibi!" ucapan Bibi terputus oleh panggilan Irfan di belakangku. Kami bersamaan menoleh, wajahnya sudah bersemu. Dia malu.
Kupersilakan mereka untuk masuk, dan kami berbincang cukup lama.
Mama dan Bibi khawatir jika kami bertengkar karena tahu aku sudah salah paham.
Dari cerita yang kudengar, ternyata, selain alasan jarang bergaul dengan lawan jenis sebagai penyebab Irfan takut bersentuhan denganku, dia juga memiliki trauma di masa lalu.
Dia pernah dilecehkan oleh seorang wanita yang berkepribadian menyimpang. Irfan pernah menjalani terapi, hanya saja, tetap enggan bersentuhan dengan lawan jenis dengan alasan bukan mahram. Hanya bibi Indah yang bisa diterima Irfan untuk terapi tersebut. Namun, jarak yang membuat mereka tidak benar-benar menyelesaikannya.
Mama juga meminta maaf karena sudah merahasiakan hal ini. Satu-satunya kesalahan mama mertuaku, ya, ini. Coba kalau bilang dari awal. Kan, langsung kusuruh berobat jauh-jauh hari.
"Kenapa nggak sejak dulu saja menyelesaikan terapinya, Ma?" tanyaku penasaran.
"Mama udah nyuruh, El. Pas baru pulang dari pesantren. Tapi Irfannya yang bandel. Nggak serius." Mama menjelaskan.
"Setelah nikah sama kamu, baru dia sibuk, minta diobati." Bibi ikut menimpali.
"Iya, Nak. Semenjak kejadian pas kamu cium--" Mama menutup mulut. Irfan mendelik karena protes.
Aku? Tentu saja malu. Kejadian beberapa waktu saat di toko kue Mas Khairi dibahas lagi. Ckck.
"Maksud Mama, Irfan jadi lebih semangat buat sembuh semenjak kalian menikah. Iya ... begitu." Mama tersenyum lega, seolah menemukan alasan yang lebih enak didengar.
Dari cerita ini kusimpulkan, Irfan memiliki trauma dengan wanita. Dulu, pernah berobat tapi tidak sampai benar-benar tuntas. Dan sekarang dia semangat melanjutkan penyembuhan phobia yang ia idap.
Berarti, dia serius ingin melanjutkan hubungan kami. Begitukah?
"Kami pulang dulu, El." Mama pamit sebelum kutawari makan siang. Disusul dengan Bibi Indah yang menyalami lalu kami cipika cipiki.
Sebelum pelukan kami terlepas aku sempat minta maaf atas kesalahpahaman ini.
Bibi tersenyum seraya berbisik, "Bibi rasa ... Irfan sudah siap."
Maksudnya apa, coba?
"Kak!" Bayiku kumat lagi manjanya.
Sepeninggal Mama dan Bibi dia terus menatapku.
Sebenarnya aku juga merasa bersalah sama dia atas kesalahpahaman tadi. Tapi bingung, mau minta maaf dengan cara yang bagaimana.
"Apaan, sih?" tanyaku heran bercampur grogi.
Kutinggalkan dia di ruang tamu. Sedari tadi manggil-manggil tapi tidak ngomong juga.
"Kak El!" Lagi, dia memanggil saat aku mulai memasak untuk makan siang.
Dia bergelayut sambil malu-malu di kusen pintu, mirip koala. Bukannya gemes, malah jadi ilfeel.
"Apaan sih, Fan?" Pandanganku terus beralih antara dia dan wajan.
"Ntar malam bobo berdua ya?" pintanya.
"Hah?"
Wakakak. Gemes? Sama. 🤣🤣
Komen yang banyak biar cepet up. 😋
PERINGATAN KONTEN DEWASA
Situs ini berisi materi dewasa yang mungkin tidak sesuai untuk semua pengguna. Jika Anda di bawah umur atau tidak ingin terpapar dengan konten dewasa, silakan tinggalkan situs ini sekarang.

0 Komentar