Novel Dewasa CMD - "APAKAH ini yang kaumaksud rumah, Paul?" Aku mendongak tanpa berkedip. Bangunan di depan mataku bertingkat dengan gaya arsitektur berseni tinggi. Kau bisa menilainya dengan menemukan marmer di mana-mana di dinding bangunannya. "Ini adalah istana. Apakah aku akan bekerja di sini?"
Paul melangkah bersamaku dan sikutnya menyenggol lenganku. "Ya, dan kau akan memiliki semua ini nanti."
Aku berbisik kepadanya. "Apa yang harus kulakukan untuk itu, Paul? Aku tidak mungkin bisa memiliki rumah mewah seperti ini walaupun harus menjadi pelayan selama bertahun-tahun."
Mata Paul mengerdip dan dia selalu terlihat tampan dengan rambut pirang yang membingkai wajahnya. "Mudah, baby girl. Kau menjadi pelayannya semalam di ranjang, maka dia akan memberikan seluruh dunianya kepadamu."
Aku menggeleng dan mengabaikannya. Idenya sangat gila dan tidak bisa diterima. Tetapi bayangan jatuh terjerembab di depan Cassilas Susnjar... aku menggigit bibir. Aku tidak mau memikirkannya. Aku tidak mau memikirkan bagaimana aku akan gemetar ketika pria tampan itu menguasi seluruh tubuhku. Menangkup apa yang bisa ditangkupnya dari tubuhku. Sialan, aku malah memikirkannya.
Paul tertawa. "Sudah kubilang, kau akan tertarik padanya."
Kami melangkah di beranda dengan langit-langit yang tinggi sampai kami bertemu dengan pintu ganda masuk. Pintu terbuat dari kayu dan sangat antik. Aku tidak menggedornya tetapi Paul menekan bel interkom di sisi pintu. Aku harus jujur kalau aku sekarang semakin gelisah.
Dan segalanya lebih menggelisahkan lagi saat pintu terbuka dan menampilkan pria berpostur tinggi dengan rambut hitam yang sangat tebal dan mengilap. Rambutnya ditarik ke belakang sementara mata birunya yang hangat langsung menyapaku.
"Selamat datang. Aku sudah menunggu kalian." Cassilas mengalunkan suaranya dengan sopan dan halus. Nada serak dalam suaranya membuatku merapatkan paha.
Aku langsung menggandeng lengan Paul. Sekuat mungkin aku harus mencengkeram lengannya agar aku tidak jatuh karena lututku rasanya sangat lemah. Aroma Cassilas pagi ini sangat nikmat. Aku tidak tahu apakah dia baru saja selesai berlatih dengan ototnya, tetapi pria itu terlihat begitu bugar. Aku bisa membayangkan kekuatan besar dalam dirinya ketika dia mengeraskan rahang untuk tersenyum kepadaku.
Aku dan Paul melangkah masuk. Cassilas menutup pintu dan menyusul kami berdiri di tengah-tengah ruangan. Mulut Cassilas terbuka dan menunjukkan seberkas giginya yang bersih. "Paul, apakah ini Miranda yang akan bekerja untukku di rumah ini?"
Aku mengatup mulutku rapat-rapat. Berupaya mengabaikan mulut Cassilas yang seksi. Yang tegas dan berani. Tidak mungkin... sudah pasti mulut itu akan mengirimkan getaran panas apabila menempel di tubuhku.
Suara Paul terdengar riang. Seolah-olah dia tidak sedang melakukan manuver apa pun terhadapku. "Tentu saja, Mr. Susnjar." Paul menoleh kepadaku dan aku sangat gugup melihat rautnya. "Miranda... berkelilinglah. Aku hanya mengantarkanmu sampai di sini. Pekerjaan sudah menungguku."
Aku melotot dan ingin sekali menginjak sepatunya. "Paul—tapi tadi tidak seperti itu. Kau berjanji akan menemaniku berkeliling."
Sebelah matanya mengedip. "Aku memang bersemangat untuk itu. Tapi pekerjaanku tidak bisa ditunda lagi."
Aku merapat ke tubuh Paul dan memeluknya. Aku berbisik di sela pelukan perpisahan kami. "Aku akan menendangmu. Ingat itu, Paul. Menendangmu."
Cassilas menegurku dan Paul langsung pergi meninggalkanku. Detik itu aku baru benar-benar sadar kalau sahabatku merupakan sindikat perdagangan wanita-wanita seksi. "Ada apa, Miranda? Apakah kau takut berada di sini?"
Aku menarik napas dan tersenyum. "Ah... tidak, Tuan. Aku tidak apa-apa. Hanya saja Paul... dia tidak seperti apa yang dikatakannya sebelumnya."
Matanya menatapku sementara dia bergumam dengan sangat serak. "Kau tidak perlu takut. Aku akan menemanimu berkeliling."
Tangannya dijejalkan ke dalam kantong celana panjangnya sambil melirik ruangan di samping kami. "Ini adalah ruang tamu. Aku tidak terlalu sering kedatangan tamu. Mereka lebih sering bertemu denganku di kantor."
"Ya... rumah ini benar-benar sepi. Aku berharap suatu hari nanti rumah ini akan ramai dengan suara anak-anak."
Cassilas tidak berhenti tersenyum. Dia mengajakku lagi melangkah bersamanya. Ketika aku melangkah sedikit lambat darinya, aku bisa menyaksikan kakinya yang jenjang dan kuat itu melangkah. Dia sangat percaya diri dan anggun.
Dia berhenti dan aku mengedarkan pandangan. Ada satu set sofa dan banyak perabotan kayu yang kutemukan. Di sebelah kanan ruangan aku bisa melihat taman yang luas di balik kaca jendela yang tinggi dan bersih. "Ini ruang duduk. Siapa pun bisa bersantai di sini. Kalau kau sudah melakukan pekerjaanmu... duduklah sambil menonton teve. Atau sekadar memandangi taman bunga dari jendela."
Aku sudah mulai sedikit tenang. Suasana di kediaman Cassilas sangat tenang dan sesungguhnya tidak ada yang menakutkan. Satu-satunya yang berbahaya dari rumah ini adalah pemilik rumah itu sendiri. Dia sangat seksi dan memancarkan pesona panas yang sulit diabaikan begitu saja.
Cassilas menuntunku lagi menuju ruangan yang klinis dan penuh dengan peralatan dapur yang tertata rapi. "Ini dapurku atau sekarang ini adalah dapurmu, Miranda. Kau bisa memasak apa pun di sini."
Aku berhenti di tepi meja makan. "Apakah Anda menyukai suatu masakan, Tuan? Aku akan berusaha untuk membuatkannya." Kata-kataku meluncur begitu saja. Penawaran itu memanggil Cassilas melangkah mendekatiku.
Benar-benar dekat di depan tubuhku sampai aku bisa merasakan napasnya. Aku mengulurkan tangan ke belakang dan menekan pinggiran meja. Aku mendongak dan menatapnya dengan takjub. Kedua tangannya ditopangkan ke meja di kedua sisi bahuku. Matanya menatapku lama sampai mulutnya melengkungkan senyum panas.
"Aku akan menikmati apa pun yang kausuguhkan untukku. Aku berjanji kalau aku akan menikmati dan mengecap rasanya. Apa pun yang kaubuat pasti akan terasa sangat enak, bukan?"
Aku mendesah. Cassilas menarik dirinya lagi dan melangkah tenang menaiki tangga menuju lantai dua. Keanggunannya sewaktu bergerak benar-benar membuatku kagum. Hasrat yang mendalam langsung saja membanjiri perasaanku saat tiba di ruangan yang sangat sensual. Seprainya merah dan ranjangnya terbuat dari kayu hitam. Aku menemukan lukisan di dindingnya. Aku melihat karpet di lantai kayunya. Aku bisa melihat lilin-lilin yang menyelimuti ruangan.
"Ini kamarku. Aku tidak bisa berkata banyak. Tapi apa menurutmu tentang kamarku?"
Aku masih memandang wajahnya yang tampan. Udara bergemuruh di dalam paru-paruku. "Seksi—maksudku romantis. Ah... tidak. Maksudku keren."
Alisnya terangkat sebelah. "Begitukah? Kau bisa masuk kapan pun kau ingin masuk ke dalam. Kamar ini akan selalu menerima kehadiranmu."
Lidahku menyelinap keluar menjilat bibirku yang kering. "Apa maksudnya itu, Tuan?"
Dia menatap bibirku dan aku berhenti menjilat bibirku. "Kalau kau ingin membereskannya, kau tidak perlu meminta izin." TO BE CONTINUE

0 Komentar