Novel Dewasa CMD - Jemariku memutar gagang pematik selanjutnya menyiapkan peralatan makan. Aku mendengar suara berdentingan ketika aku melakukannya. "Menendang bokongmu adalah balasan terbaik karena kau mengirimku ke kandang singa."
Tanganku meraih sepucuk kain saat melihat sebuah mangkuk yang masih basah. Aku sempat terdiam beberapa detik saat memoles benda porselin itu sebelum bertutur. "Sebenarnya aku masih merasa ragu. Aku tidak ingin mengacaukan hidupku. Aku tidak ingin jatuh cinta.... untuk sekali lagi."
Aku menoleh cepat sehingga ekor kudaku bergoyang ke samping. "Bisakah aku menolaknya, Paul?"
Paul meninggalkan masakanku dan mengernyit. "Ayolah, Mires. Pangeranmu sudah di depan mata. Kau harus menghargai kerja kerasku ini."
Hembusan napasku meluncur cepat melalui mulut. "Aku tidak tahu apa yang kaulakukan di belakangku—tetapi pangeranku tentu saja sudah lenyap ketika aku lahir di planet bumi. Atau mungkin dia baru saja tertabrak truk. Tidak ada pangeran, Paul."
Paul berpindah ke sisi di seberangnya, bertengger di meja dan melipat tangan di depan kemejanya yang masih luar biasa licin. "Tolong jangan pikirkan Brad-mu itu lagi. Dia pantas untuk kaulupakan selama-lamanya. Dan jangan biarkan pria kurang ajar itu menghalangimu untuk mendapatkan cinta yang baru."

Aku meletakkan mangkuk di tanganku ke tumpukan mangkuk yang ada. "Lihat aku, apa yang bisa diharapkan dari wanita sepertiku? Sangat sederhana."
Bibir Paul yang segar dan merah mengerucut. Menilaiku. "Aku pikir itu suatu kelebihan. Di luar sana wanita memimpikan hidup sederhana; mengurus keluarga dan bekerja tanpa beban berarti. Tetapi nyatanya mereka dipaksa memakai riasan setebal alas sepatu hanya untuk menarik pria agar mau mengisi rekening dompet mereka."
Kepalaku tertunduk dan terbayang spesimen seksi dan berbahaya yang kujumpai pagi tadi. Ketika daguku tegap kembali, aku bersuara getir. "Tapi Susnjar terlalu seksi. Aku bisa saja menerjang tubuhnya ketika dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan ikatan handuk di pinggulnya."
Paul membuat bunyi dengan dua jarinya. "Nah, itu yang kumau."
Pria itu selanjutnya mengambil posisiku dan mengangkat susunan mangkuk yang akan kami siapkan di meja. Bahuku menyenggol bahunya. "Terima kasih dewa jodoh. Kau juga harus membuka perusahaan perjodohan. Kuyakin kau akan sukses besar menilai tekadmu yang keras."
Paul berdiri bersama wadah makan itu. "Kita tidak akan berdebat. Rue dan pasukannya sedang lapar. Oke?"
Aku tertawa dan ingin memeluk Paul karena perilakunya yang selalu hangat dan bersahabat. Dia adalah kakak terbaik untuk adik-adikku. Tentu begitu pula untuk diriku sendiri, Brother Paul.
*****
Kami tengah menyiapkan makan malam di meja sementara Paul berseru. "Keren sekali. Rambutmu semakin pirang, Rue."
Aku menandak mangkuk sup ke meja sehingga bisa menyaksikan senyum Rue lebih dekat. "Aku siap andaikan produk sampo menginginkanku bekerja untuk agensi yang menjadi rekanmu itu, Paul." kata Rue dengan energik.
Paul melotot. "Kau mengira aku tahan bersabar? Tinggal menunggu tahun depan setelah kau habiskan masa sekolahmu."
Aku menyusul mereka duduk di kursi. "Tapi menurutku Rue akan lebih cocok dalam iklan celana jins. Kakinya panjang dan berotot."
Rue mengambil mangkuknya dan menyerangku. "Kau terkadang memangkas uang jalanku,"
Bibirku terulas senyum lebar. "Bocoran yang bagus, Rue. Jangan sampai pria di sampingku ini melaporkanku karena menindas anak di bawah umur—tetapi tidak, kau sudah menonton dengan rating yang sama sepertiku!"
Paul mengangguk, lalu tatapannya tajam menyorotiku. "Aku juga pasukanmu, Rue. Tentu saja Mires sudah kulaporkan dan dia akan segera mendapat hukuman."
Tanganku mengambil sendok sup, "Tutup mulutmu dan makanlah Paul Yang Terhormat. Dan bersediakah kalau aku membantumu melepaskan dasimu itu?"
Secepatnya tanganku meraih dasi Paul untuk melonggarkan ikatannya yang mencekik. Bahkan dirinya lebih dulu tercekik sebelum aku yang melakukannya. Paul mengerling. "Belajar, huh?"
Karena di tengah-tengah kami ada mahluk yang sudah mengerti betapa kerasnya kehidupan di dunia, maka itu dia mencetus. "Seharusnya kau menerangkan apa yang kalian bicarakan."
Paul dengan penuh semangat membalas pernyataan Rue. "Miranda kalian yang seksi akan bekerja di rumah seorang miliuner."
Tiba-tiba terjadi sorakan seakan malam ini adalah malam pergantian tahun. Aku melotot kepada semuanya. Juga pada sendok-sendok di mangkuk mereka.
"Kau harus menikahinya!" seru Isela.
Sementara Neil mengetuk meja dengan jemari kecilnya dan dengan terpaksa harus mendengar celotehannya. "Aku merasa gembira kalau kau bisa membantuku membelikan mainan dengan menikah dengannya."
"Dia seharusnya memang kaya raya." Rue menatapku dengan mata bersinar.
Aku menggeram dan menekuk bibir. "Ah Paul... aku akan mencekikmu—come on populace, makanlah!"
*****
Setelah undangan makan malamku, Paul pamit selepas menyumbangkan sedikit tenaganya untuk membantuku membereskan meja makan bersama Rue. Aku menggodanya. "Bagaimana hubunganmu dengannya?"
"Dia sok cantik. Tapi aku akan lebih sok tampan." Paul tersenyum.
"Mengalahlah demi hubungan kalian, Demi Tuhan." Aku mengernyit serius padanya.
Paul sendiri hanya mendecakkan lidah. "Hubungan kami sudah berakhir, tetapi hubunganmu baru saja akan dimulai."
Aku menggeleng padanya. "Bisakah aku menciummu?"
"Apa aku pernah menolaknya?" Paul terlihat seperti beberapa tahun lalu, anak lelaki yang manis dan menyenangkan. Hanya saja sekarang dia sudah terlalu tinggi dan lebih tampan.
Aku berjinjit dan melepaskan kecupan singkat di pipinya yang mulus. "Terima kasih banyak. Beritahu aku kalau CS siap menerimaku untuk berada di rumahnya."
Ujung bibir Paul tertarik. "Bahkan di ranjangnya."
Jemariku mendorong tubuh pria di depanku sementara dirinya tertawa. "F you and good evening anyway." selorohku ketika Paul menuruni anak tangga. Pria itu terus saja tertawa hingga memasuki mobil dan membunyikan klakson ketika dia hendak keluar dari halaman rumahku.
Paul.... aku tidak tahu apakah aku dapat tersenyum tanpa dirinya. TO BE CONTINUE