THIRSTY MAID Episode 21

Novel Dewasa CMD - PERABOTAN yang diletakkan di tiap ruangan mungkin saja sudah menganggapku gila karena aku tidak bisa berhenti tersenyum. Aku bahkan malu untuk menatap wajahku sendiri di depan cermin. Aku takut melihat mataku yang bersinar karena hasratku kepada Cassilas. Hasrat yang setiap detiknya terasa semakin menggetarkan.

Walaupun aku hanya seorang diri di kediamannya yang luar biasa luas dan megah, aku malah merasa panas. Aku merasa seakan Cassilas ada di sekitarku dan sedang mengintaiku yang sedang bekerja. Memerhatikan setiap detil gerakanku sehingga beberapa kali napasku tersekat dan tengkukku merinding. Sambil juga merasa waswas kalau Cassilas yang kuat dan memesona itu akan menerkam tubuhku.

Demi Tuhan... inikah reaksi yang terjadi ketika aku terserang demam cinta Cassilas?
Sampai sore hari, aku sudah membersihkan seluruh ruangan termasuk kamar Cassilas. Saat aku menyentuh pakaiannya yang disampirkan begitu saja di kursi di kamarnya, jemariku seolah tersengat seperti saat aku menyentuh tubuhnya. Aku pun menjadi semakin gemetaran sewaktu menyiapkan tempat tidurnya dengan mengganti seprai baru dengan warna yang senada.

Ranjangnya benar-benar romantis dengan balutan satin merah yang indah, memberikan kesan berbahaya sekaligus menggoda. Seketika aku merasa iri. Bukan pada Cassilas yang memiliki ranjang semewah itu, tetapi pada wanita lain yang pernah terhempas tanpa perlawanan di sana. Tetapi ketika membayangkan diriku sebagai wanita-wanita itu, berbaring tak berdaya di sana, dadaku tersekat.

Aku buru-buru keluar dari kamar sebelum aku terkurung selamanya di sana bersama pikiranku.

Tetapi sampai malam menjelang, aku sama sekali belum mendapat kabar bahwa Cassilas akan pulang. Karena kerinduanku yang besar padanya, serta kecemasanku yang perlahan juga mulai menguasi hatiku, aku memberanikan diri untuk mengeluarkan ponsel dan menghubunginya.

"Miranda."

Aku menarik napasku berkali-kali sebelum berani membalas sapaannya yang menggeramkan namaku. Aku tidak tahu apakah geraman itu mengartikan kemarahannya karena aku sudah lancang mengganggunya, ataukah geraman berupa tuntutan liar.

"Tuan... apakah Anda baik-baik saja? Aku merasa khawatir karena Anda belum juga pulang."

Aku mendengar suara kursi berderik di sambungan telepon, yang membuatku membayangkan Cassilas bangkit berdiri dan menampilkan tubuhnya yang kuat dan ramping. "Astaga, apakah kau masih berada di sana?"

Nada suara Cassilas yang semula tajam karena terkejut, berubah menjadi halus dan sopan. "Pulanglah sekarang juga, Miranda. Kau seharusnya saat ini sudah bersama adik-adikmu."

"Aku baru akan tiba di sana tengah malam nanti. Kau tidak perlu menungguku. Kau harus istirahat."

Entah kenapa aku langsung menjadi sedih. Perasaanku yang sebelumnya menggebu-gebu karena tahu Cassilas akan menemuiku, kini mendadak hampa. Aku pun menggumam dengan teramat lirih. Aku tidak bisa menyembunyikan kekecewaanku. "Oh.. baiklah, Tuan."

Tetapi kemudian Cassilas menegurku. "Ada apa, Miranda? Kau terdengar sedih."

Aku mencoba mengembuskan napas beberapa kali untuk menyingkirkan tusukan rasa sakit di hatiku, tetapi itu sama sekali tidak berguna. Aku masih dalam keadaan di mana aku merindukan Cassilas tetapi tidak bisa berjumpa dengannya.

"Hmm... tidak apa-apa, Tuan." tukasku pelan.

Cassilas bertanya lagi. "Miranda... apakah kau merindukanku? Atau mencemaskanku? Kalau kau mencemaskanku, seharusnya kau sekarang bisa tenang karena tidak terjadi masalah apa pun padaku saat ini."

"Tentu saja, Tuan. Aku merasa tenang karena tahu Anda baik-baik saja." kataku sambil berusaha tersenyum dengan ponsel yang masih menempel di telingaku.

Cassilas menyanggah. Tetapi suaranya justru terdengar lebih dalam dan intim. "Tidak, Miranda. Katakan padaku kenapa kau mendadak uring-uringan seperti itu? Apakah itu karena kau sangat ingin bertemu denganku malam ini?"

Akhirnya aku mengaku padanya. "Anda sudah memintaku untuk menunggu, tetapi kemudian Anda menyuruhku untuk pulang, Tuan."

Keheningan beberapa detik yang berderak di antara kami membuat jantungku berdebar-debar menunggu respon Cassilas. Lalu terdengar pria itu bergumam kembali. "Baiklah, Miranda. Kabari Rue bahwa kau akan menginap di rumahku malam ini."

Aku seketika tercengang tetapi juga tersipu. "Apa?"

"Ya. Aku akan menemuimu secepat mungkin. Sementara kau menungguku, kau bisa beristirahat. Aku tahu kau sudah menyiapkan semuanya untukku. Aku tidak mau kau kecewa."

Hasratku kembali terpercik dan pelan-pelan tubuhku memanas. "Ah tidak... aku akan pulang-"

"Diamlah, Miranda." Cassilas menyelaku dengan geraman. "Sekarang duduklah di ruang tengah. Atau kau boleh memilih kamar mana pun untuk berbaring."

Bibirku mengering dan aku merasa takjub. Cassilas benar-benar sangat menganggumkan dengan sikapnya yang selalu hangat walaupun juga berbahaya. Dia memiliki pesona yang belum pernah kutemui dalam diri pria lain. Ketulusan dan keliaran menyatu sempurna dalam dirinya. Aku bahkan sekarang tak sanggup membayangkan apa yang terjadi padaku malam nanti ketika dia menunjukkan sikapnya yang tulus dan liar itu.

"Dengar Miranda, kalau kau mengikuti perintahku sekarang, kau tidak perlu menunggu akhir bulan untuk mendapatkan bonus. Aku akan memberinya malam ini juga padamu."

Sambil merapatkan paha dan menjilat bibirku yang kering, aku menjawabnya. "Baik, aku menunggu kehadiran Anda, Tuan."

"Bagus. Aku selalu memikirkan dirimu, Miranda. Tidak peduli jarak di antara kita saat ini, kau sudah mengambil alih pikiranku." bisiknya seakan berbisik langsung di belakangku sampai punggungku yang rapuh melengkung. Oh Tidak. TO BE CONTINUE