Bahkan getaran-getaran itu bangkit kembali pada malam ini dan menyelinap ke balik selimutku. Aku tidak mendengar apa-apa selain suara seksi dan dalam Cassilas, seakan-akan pria itu saat ini sedang berbaring menatap sisi wajahku dan berbisik di telingaku.
"Aku anggap itu tantangan untukku, Miranda." Dan... aku pun merinding.
Setelah percobaan beberapa kali menutup mata, dan menyingkirkan kembali sosok Cassilas yang sempurna dan menawan di benakku, akhirnya aku mampu terlelap dan langsung bangun pagi dalam keadaan terkejut.
Rue membuka pintu kamarku, menekan saklar lampu, dan memanggilku dengan suara nyaring. Aku bangkit dan mengernyit kebingungan. Tetapi ekspresi Rue yang ketakutan langsung saja menular padaku ketika aku menatapnya beberapa detik lagi.
"Miranda, kita harus membawa Neil ke rumah sakit. Sekarang juga."
Tanpa kata-kata, aku langsung melompat meninggalkan ranjang dan berlari bersama-sama ke kamar tidur Neil. Mengetahui suhu tubuh Neil yang tinggi, aku dengan refleks menangkap tubuh adikku yang kecil dan ingin menggendongnya. Tetapi Rue mencegahku, dia mengambil alih Neil lalu kami semua pergi ke rumah sakit terdekat.
Setelah pemeriksaan dari dokter yang mengatakan Neil terserang demam dan harus menginap agar bisa dikontrol intens, aku terbelalak saat melihat jam yang menunjukkan pukul sepuluh. Demi Tuhan... aku bergerak secepat yang bisa dilakukan oleh seorang wanita untuk bersiap-siap berangkat bekerja karena aku sudah terlambat satu jam.
Sebelum itu aku memeluk Rue dan mengusap rambutnya yang tetap terlihat menawan walau acak-acakan. "Aku titipkan Neil dan Isela sementara padamu. Aku harus menghadap bosku. Aku tidak tahu apakah dia akan memecatku karena aku terlambat di hari pertama bekerja, tapi kalau tidak, aku akan meminta padanya agar aku bisa pulang cepat."
Sekali lagi aku melangkah mendekati Rue dan berjinjit untuk mencium pipinya. "Aku membutuhkan pekerjaan ini, Rue. Sudah pasti kita butuh banyak uang."
Senyum Rue tersungging. "Santailah, Mires. Kau bisa mengandalkanku."
Sebelum aku berbalik, dia kembali berubah menjadi adik tampanku yang menyebalkan. "Dia tidak akan memecatmu, Miranda. Dia justru akan memberikan segalanya untukmu."
Aku memutar tubuh dan mengulurkan jari tengah ke belakang sambil berlari. Samar-samar di lorong, aku mendengar tawaannya menggema.
*****
Berhasil menginjakkan kaki di kediaman mewah milik Cassilas setelah aku bersiap-siap merapikan diri dengan kilat, aku menunduk di hadapannya. Pagi itu Cassilas mengenakan setelan hitam yang senada dengan sepatunya yang mengilap. Entah kenapa dadaku berubah sesak dan panas ketika berhadapan lagi dengannya. Kekuatannya sangat panas dan nyata bahkan sepagi ini.
"Maaf. Aku tidak percaya akan datang terlambat di hari pertama aku bekerja. Aku harus mengantar adikku untuk diperiksa. Dia sedang sakit."
"Lalu kenapa kau ada di sini? Kau harus bersamanya." gumam Cassilas bernada simpati dan lembut.
Aku mengangkat wajah perlahan-lahan dan memandangnya. Aku tidak percaya bahwa Cassilas tidak marah padaku tetapi matanya malah terlihat tulus. Tatapannya itu membuat pondasiku diguncang gempa kembali. Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan agar tidak jatuh cinta dengannya. Cassilas Susnjar adalah pria yang paling pantas untuk dicintai.
Aku menggigit bibirku kembali. Hanya itu yang bisa kulakukan. "Tapi aku harus melayani Anda. Ini waktuku bekerja."
Cassilas mengernyit. "Melayaniku?"
Mulutnya yang sensual itu melengkung dan membuat ujung kakiku mengerut di balik sepatu kerjaku. "Aku tidak akan memotong gajimu karena kau izin. Ayo kita pergi ke sana sekarang."
Aku mengulang sepatah kata ucapannya. "Kita?"
Tubuh Cassilas semakin menjulang di hadapanku ketika dia melangkah dan berhenti tepat di hadapanku. Aku mendongak sementara dia juga menjatuhkan tatapan di mataku. "Ada ada masalah kalau aku perhatian kepada orang lain? Terlebih itu adik maid-ku sendiri?"
Cassilas menggenggam tanganku dan membawaku ikut bersamanya ke dalam mobil. "Jangan khawatir. Adikmu pasti akan baik-baik saja." tegur Cassilas ketika kami sudah berada di dalam limusin.
Ya, aku berharap Neil akan kembali sehat. Tetapi setelah itu aku yang berharap agar aku tidak terkena demam cintamu, Mr. Cassilas Susnjar. Kataku dalam hati. TO BE CONTINUE

0 Komentar