Suami takut istri Eps. 9

Novel Dewasa CMD - "Sudah, cukup. Sesuai janji kita kemarin. Kita ke sini hanya untuk mendengar penjelasan Elyana, kan? Sekarang sudah jelas. El sudah benar-benar menikah. Jangan ganggu dia lagi." Kini, si Biang Kerok bersuara. Sedari tadi, kek!

"Tapi, Paman. Aku nggak rela lihat dia menderita bersuamikan lelaki lemah dan takut perempuan. Lebih baik juga, balikan sama aku nanti. Akan kubahagiakan dia lahir batin!" tukas Revan.

"Nggak bisa, Revan. Dia harusnya sama aku. Kami punya usaha berdua. Dan kamu juga, kan, sudah menikah. Mau dikemanain istri kamu, hah?" sanggah Mas Khairi lagi.

"Ooh, aku akan mencerai-"

"Sudah! Cukup!"

Speechles!

Lelaki manjaku bersuara dengan nada yang seumur pernikahan kami belum pernah sekali pun kudengar.
Irfan berdiri dengan kedua tangan yang mengepal. Bahunya naik turun seperti menahan gejolak emosi. Wajah putih bersihnya kini bahkan tampak memerah.

"Aku suaminya. Dia milikku! Kalian nggak berhak mengganggu wanita yang sudah bersuami.

"Bukankah kalian lelaki berpendidikan? Bagaimana bisa berbuat serendah ini, mengharapkan perpisahan seorang istri dari suaminya? Tidak tahu, kah kalian, jika perceraian adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah?"

Entah mengapa, melihat Irfan seperti ini, membuat hatiku terenyuh. Irfan, sosok yang selama ini begitu manja dan kekanakan, tiba-tiba saja bisa semarah ini saat aku diperebutkan oleh mereka. Kecemburuan yang keduakalinya membuat Irfan sangat marah.
Aku pikir, dia hanya akan diam pasrah layaknya lelaki cemen. Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaanku.

Irfan ... boleh, tidak, kupeluk dia sekarang?

"Ya, aku tahu kalian sudah menikah. Tapi apa kamu sudah berlaku layaknya suami untuknya?
Kami masih saling mencintai. Lepaskan saja dan biarkan aku buat dia bahagia." Tatapan Revan sungguh mengejek. Membuat kepalan tangan Irfan makin menguat.

Kusentuh tangannya, bermaksud menenangkan serta memberi kekuatan. Irfan menoleh padaku sejenak. Lalu, menggenggam tanganku erat. Persis seperti saat kejadian di toko kue bersama Mas Khairi beberapa waktu yang lalu.

"Nggak bisa gitu, dong ... kamu cukup sama istrimu saja, Van. Aku yang ak--"

Belum selesai Mas Khairi bicara, Irfan menarik kuat tanganku hingga kami sama-sama berdiri. Sejenak kemudian, Irfan menatap mataku lekat.
Kurasakan, pinggangku direngkuh dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya berada di tengkukku.

Bibir kami pun ... bersatu.

Bukannya memejam, mataku justru terbuka lebar. Aliran darah terasa bagai air terjun yang mengalir deras di sekujur badan.
Dapat kurasakan remasan tangan Irfan menguat di tengkukku.
Cukup sakit, sebenarnya. Tapi tidak mungkin kurusak moment ini begitu saja. Aku tahu, tidak mudah bagi Irfan untuk berbuat sejauh ini. Dia gemetar, dapat kurasakan embusan napasnya yang memburu. Samar terlihat, ada beberapa titik peluh di dahinya. Debaran di dadanya juga dapat kudengar. Aku khawatir, dia akan pingsan di depan kedua rivalnya itu. Betapa malunya nanti?

Kugenggam kedua lengannya, berharap agar dia lebih kuat. Em ... maksudku, kuat untuk tetap tersadar. Bukan kuat dalam hal lainnya.
Aku sungguh berharap dia akan bertahan, hingga mereka pulang.

Beberapa detik kemudian Irfan melepas rengkuhannya. Aku yakin, dia pasti sekuat tenaga untuk tidak terlihat gemetar, meski dari dekat aku masih melihatnya.
lalu Irfan berbalik menatap tajam ke arah mereka berdua.

"Sudah cukup? Kalian sudah puas?!" Irfan berang.

Mataku terus mengerjap melihat reaksi Irfan. Sosok manja dan kekanakannya entah raib ke mana. Yang terlihat saat ini adalah, Irfan yang berani dan menawan.

Tadi itu ... ciuman pertama kami. Bagaimana mungkin terjadi dengan kondisi seperti ini?

Hilang sudah harapan untuk mendapat tabokan bibir dengan nuansa yang romantis.
Tetapi saat ini bukan itu yang terpenting. Lupakan!

"Sudah, cukup. Van, Khai, kalian sudah melihat sendiri, kan? Mereka pasangan yang bahagia." Paman Johan menengahi.

Revan mendengkus, lalu beringsut meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun. Sedangkan Mas Khairi, dia menatapku sayu, lalu juga beranjak pergi.

"Maaf, El. Aku terbawa emosi. Aku pikir, apa yang kudengar tentang Irfan itu benar adanya. Ternyata, itu cuma rumor. Semoga kalian bahagia."

Ah, Mas Khairi. Andai saja dia tahu, itu bukanlah rumor belaka. Melainkan sebuah fakta. Yang barusan terjadi itu adalah untuk pertama kalinya.

Mas Khairi meninggalkan kami dengan wajah lesu.

"Maaf, Mas." Entah mengapa rasa bersalahku datang tiba-tiba. Dia patah hati karenaku untuk yang keduakalinya.

Mas Khairi mengangguk. "Pamit, ya. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam." Kami menjawab bersamaan.

Kulihat Paman senyum-senyum tidak jelas. Dia sok keren dengan watados-nya.

"Oke, semua sudah clear. Paman pulang dulu."

Paman beranjak pergi. Dia menepuk bahu Irfan saat melewatinya dan terkekeh pelan.
Wajah Irfan bersemu, dan seperti biasa, cengar-cengir serta garuk-garuk kepala.

Kini, tinggal kami berdua saja. Suasana menjadi canggung. Kami saling terdiam. Aku kembali duduk di sofa. Begitu pun, Irfan.

Beberapa menit kami saling membisu. Bingung mau bilang apa. Jujur, aku malu. Sepertinya, dia juga begitu.

"Fan!"

"Kak!"

Panggilan kami bersamaan terlontar.

Menunduk lagi. Hening lagi.

"Maaf," ucapnya sambil tersipu.

"Nggak apa-apa." Aku menunduk, tapi mataku menatapnya. "Kamu nggak pingsan?" tanyaku.

Irfan menggeleng.

Saat tatapan kami kembali saling bertemu, Irfan membuang muka. Lalu berdiri. Berlari ke kamarnya, meninggalkanku sendirian.

Fan ... aku mau lagi .... TO BE CONTINUE