| Suami takut istri Eps. 8 |
Novel Dewasa CMD - Tertatih, kuseret tubuh Irfan ke ambal ruang tv. "Nih anak lumayan berisi juga badannya. Jadi penasaran, kira-kira perutnya mirip roti sobek nggak, ya? Astaghfirullah ... sejak kapan, sih, aku jadi mesum gini? Kutukan dari Revan kayaknya." Aku bergumam sendiri, kesulitan menarik tubuh Irfan. Masih dengan jejak air mata dan cairan yang memenuhi rongga hidung. Kebayang, kan, gimana rasanya? Mirip orang lagi pilek terus berjalan nunduk. Angkat beban, pula. Sesekali kugunakan kaos Irfan buat lap. Karena jilbab sudah sedari tadi kuhempaskan. Gerah.
Ini anak mau diapain biar sadar? Masa, iya, mau manggil mama ke sini. Nanti kalau ditanya kenapa bisa pingsan, mau jawab apa?
Dengan perasaan hati yang jungkir balik, kuambil minyak kayu putih, lalu mendekatkan ke lubang hidung Irfan ke kanan dan ke kiri. Perlahan, matanya mulai mengerjap. Manjur!
Aku pun menjauh, takut dia pingsan lagi.
"Kak ...," panggilnya, sambil mengerjap-ngerjapkan mata.
"Kak El ...."
Aku yang meringkuk di sudut ruangan ragu-ragu mulai mendekat.
"Iya, Fan. Aku di sini."
Irfan menoleh. Menatapku sayu.
Apakah dia marah karena aku menangisi pria lain? Apa iya dia secemburu itu?
"Kak ...." Tatapannya semakin menyayat hati. Membuatku merasa bersalah banget jadinya. Aku tahu gimana rasanya, ketika orang yang kita cintai ternyata menaruh hati pada orang lain. Sakit.
Eh, emang dia cinta sama aku?
Irfan bangun sendiri tanpa uluran tangan dariku. Tidak lucu, kalau baru bangun udah ambruk lagi. Lalu dia duduk bersila di hadapanku.
Kini, kami duduk saling berhadapan.
"Maaf," katanya.
"Enggak, aku yang harusnya minta maaf," tukasku.
Irfan terdiam dan menunduk. Seperti sedang berpikir sesuatu.
"Fan ...," panggilku lagi.
Irfan mendongak. Kukucek ujung hidung mampetku yang gatal dengan punggung jari telunjuk.
"Kamu tadi, kenapa pingsan?" tanyaku, dengan suara serak bercampur sengau.
"Dadaku sesak. Kak El meluknya kekencengan. Nggak bisa napas." Sedikit gugup Irfan menjawab.
"Yakin, bukan karena syok?"
"Karena itu juga. Hehe."
Dasar!
Wajah Irfan mendadak kusut, tidak bisa kubaca isi pikiran melalui ekspresinya.
"Kak El ... yang sabar, ya," ucapnya.
"Maksudnya?"
"Ya, pokonya yang sabar. Irfan sedang berusaha."
"Berusaha apa, Fan?" Irfan terlalu berbelit, membuatku tidak paham apa yang dia maksud.
Irfan menghela napas. "Dan juga ... maaf."
Alih-alih menjawab, dia malah membuatku tambah bingung.
"Untuk?"
"Belum bisa menjadi suami yang baik," jawabnya.
Si bocah mendadak jadi kayak orang dewasa. Sekarang, aku yang garuk-garuk kepala. "Seharusnya, saat ini Irfan bisa menjadi pengobat luka di hati Kakak. Tapi, Irfan belum bisa. Dan Irfan juga belum mampu untuk ...."
Perkataan irfan menggantung. Dan apa tadi yang dia katakan? Pengobat luka? Kenapa dia mendadak jadi melankolis gini? Apa dia tahu tentang aku dan Revan?
"Luka apa, sih, Fan?" Aku pura-pura lupa dan tidak tahu.
"Irfan tahu, kok, tentang Kakak sama Bang Revan."
"Hah?"
Irfan menatapku yang sedang keheranan dan bertanya-tanya.
"Dari Paman," lanjutnya.
Sepertinya, segala rahasiaku sudah paman Johan ceritakan ke Irfan. Tapi kapan?
Ah, benar. Paman, kan, sering ke rumah Papa untuk bisnis kopinya.
Aku tertunduk lemas. Memilin-milin ujung gamis. Baru sekarang terlihat selemah ini di depan Irfan. Biasanya aku selalu bawel dan cerewet. Tidak enak banget rasanya, saat ketahuan sama dia, masih ada orang lain di hati ini.
"Fan ... aku ... aku ...."
Irfan bangkit, berjalan meninggalkanku menuju pintu depan. Dia berhenti, memungut tote bag yang berserakan di lantai. Aku tadi tidak menyadari Irfan membawa itu. Setelahnya, dia kembali lagi, duduk di hadapanku.
Irfan terdiam cukup lama, dan aku hanya bisa menunggu apa yang mau dia katakan.
"Kak."
"Hemm?" Kutatap wajah imut yang sudah lebih dari satu minggu ini menjadi pemandanganku setiap hari.
"Ini, buat Kakak." Irfan menyodorkan kedua tote bag tersebut. Penasaran, lalu kubuka isinya.
Satu set gamis branded berwarna dusty pink, serta mukenah bermotif timbul, yang dari merknya saja sudah ketahuan, ini pasti harganya cukup mahal. Jadi, untuk ini dia tadi minta uang?
Mataku jadi berkaca-kaca lagi. Tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan terharu. Seorang Irfan, si kecil dan manja, kok punya akal-akalan beliin baju istrinya?
"I—ini ... buatku?" Mataku mengerjap, aku tersanjung. Bukan karena harganya, tapi karena ... tahu, kan, gimana senengnya dikasih sesuatu sama orang yang deket sama kita?
"Itu sebagai tanda permintaan maaf Irfan, Kak."
"Maaf untuk yang tadi?"
"Bukaann. Eng ... untuk kesalahan ... yang kemarin."
"Ooh, yang di mobil?"
Kebiasaan cengar-cengir dan garuk-garuk kepala Irfan entah sejak kapan membuatku candu. Berubah jadi enak aja gitu, buat dilihat.
"Iya," jawabnya malu-malu.
"Kata Mama, Irfan harus minta maaf, Kak. Sekaligus ngasih hadiah juga."
Kata Mama? Itu artinya ....
"Kamu cerita ke Mama tentang aku nyium kamu?"
"I—iya, emang ... Nggak boleh, ya?"
Hiyaaaaa ....
"Irfaaannnn!"
Pletak!
"Aw! Sakit, Kak."
.
Sudah sebulan berlalu. Hubungan kami masih gitu-gitu aja. Hanya satu hal yang membedakan kondisiku sekarang, yakni punya teman serumah. Catet, ya. Serumah, bukan sekamar. Meski begitu, lumayan, lah. Irfan bisa menjadi pengusir sepiku. Hal itu juga yang membuatku menjadi jarang datang ke rumah Paman. Hari ini, aku memutuskan untuk ke sana, kangen.
"Cieee ... pengantin baru. Udah lupa sama paman semata wayangnya sekarang." Paman menggodaku dengan mimik wajah yang dibuat-buat.
Bibi Erlin di sebelahnya juga turut senyum-senyum dengan tatapan menggoda.
"Apaan, sih. Baru juga datang. Udah diledekin." Aku mencebik.
Kuhenyakkan tubuh di sofa seberang Paman dan Bibi yang tengah sibuk dengan kertas dan pulpen. Menghitung pemasukan dari penjualan biji kopi mereka. Mereka duo sejoli yang kompak.
"Di mana Zaidan, Bi?" tanyaku, sembari mencomot kacang kulit di atas meja.
"Tidur." Bibi menjawab singkat. Sibuk bantuin Paman, mengitung pakai kalkulator.
"Gimana hubunganmu sama Irfan?" Paman bertanya, masih dengan fokus ke tulisannya yang acak adul itu. Menulis angka-angka dengan beberapa daftar nama para pekerja.
"Gitu, deh," jawabku asal. Lalu berpindah tempat, duduk di bawah. Bertopang dagu dengan tangan yang kutumpu di meja kaca. Sambil nyemilin kacang.
"Gitu gimana?" Kini, giliran Bibi yang nanya.
Aku terdiam, memikirkan perihal Irfan yang takut denganku.
"El!" panggilan Paman sungguh mengejutkan. Dia juga ikut penasaran.
"Kamu ada masalah?" Paman meletakkan pulpen dan melepas kaca mata yang bertengger di hidungnya. Paman memang sedikit rabun kalau melihat tulisan.
"Enggak."
"Jangan bohong."
Paman memang paling tahu aku. Bertahun-tahun hidup bersama, dia tahu persis dengan kebiasaan dan polah tingkah keponakan sematawayangnya ini.
Dia pun mendekat.
"Katakan, mungkin kami bisa bantu," ucapnya, seraya mengelus kepalaku.
Paman memang seperhatian itu. Dulu saat masih sekolah, aku kerap menangis dalam rengkuhannya. Saat rindu Ayah dan Ibu, saat diputusin pacar pas lagi sayang-sayangnya sewaktu masih cinta monyet dulu. Banyak hal yang kulewati bersamanya.
Tapi sekarang, tidak mungkin, lah, kuungkapkan kegalauan ini di dalam pelukan dia. Meski kami mahram, tapi beda cerita saat aku sudah dewasa. Irfan, yang kuharap mampu menjadi sandaran pengganti paman, malah dia yang bersandar padaku. Ck!
"Irfan ...." Aku ragu untuk bercerita. Haruskah? Itu, kan, aib suami.
"Irfan kenapa?"
Mereka kompak banget bertanya.
"Dia ... dia ...."
Ragu-ragu aku menjawab, bagaimana kalau Irfan tahu? Bakalan marah, pasti. Dosa tidak, ya, kalau aku cerita? Tapi, tidak apa-apa kayaknya. Demi solusi!
"Katakan, El." Paman terus mendesak.
"Dia takut perempuan." Sorry, Fan.
"Hah?" Paman dan Bibi melongo.
"Maksudnya?" Paman meminta penjelasan.
"Iya, dia nggak berani kontak fisik sama perempuan, kecuali sama Mama. Beberapa hari yang lalu, dia bahkan pingsan pas El peluk." Sedikit malu kuceritakan kejadian waktu itu.
Paman tepok jidat.
"Ya, ampun ... El ... jangan jangan ... Irfan ...." Kini, tangannya beralih mengelus janggutnya yang hanya beberapa helai. Mulai berpikir, mengamati, menganalisa, dan hendak berspekulasi.
"Gay?" Kutangkis pemikiran Paman sebelum merembet ke mana-mana. Lalu kuceritakan duduk permasalahannya. Dari penjelasan Mama, hingga perubahan serta kemajuan Irfan akhir-akhir ini.
Paman sempat tersenyum dan cengar-cengir mendengar penjelasanku.
"Pantesan ...," kata Paman.
"Pantesan apa?"
"Haha, Irfan sempat kutanyai. Pantas saja dia nggak nyambung. Kirain malu, ternyata belum rasain sama sekali."
"Emang, Paman nanya apa?"
Bukannya menjawab, Paman malah ketawa terbahak-bahak. Ish! Mencurigakan.
"Kamu tidak perlu tahu. Itu urusan lelaki. Sekarang, apa yang akan kamu lakukan?"
"Entah."
"Kok, entah?" timpal Bibi.
"Emang, suruh apa lagi? Dia mulai berubah, kutunggu saja sampai dia bersikap seperti suami yang seharusnya."
"Kelamaan. Sampai tua kamu. Nggak bakalan punya anak." Paman menjawab.
"Jadi?"
"Paman ada ide."
.
.
Gelak tawa Paman dan Bibi membuat salam dari luar tidak terdengar. Zaidan bahkan jadi terbangun karena ramainya tawa kami.
Pekerja yang biasa menjemur biji kopi di lapangan samping rumah pun masuk, menyampaikan jika ada tamu di depan. Paman menghampiri tamu tersebut. Tidak lama kemudian, aku juga pulang.
Kulihat dari kejauhan, Paman tengah sibuk mengobrol dengan dua lelaki di gazebo, tempat istirahat para pekerja.
Tanpa memerhatikan mereka aku melenggang, masuk ke dalam mobil. Bergegas untuk pulang. Irfan sebentar lagi pasti sampai di rumah. Kasihan, kalau aku tidak ada. Anak itu udah kayak tanggung jawabku saja.
Ck! Posisi kami memang terbalik, bukan seperti itu seharusnya.
"El!" Satu panggilan membuatku menoleh ke sumber suara.
Kondisi kaca pintu yang setengah terbuka membuatnya terlihat dari kejauhan.
Ternyata yang memanggil Paman, posisinya sudah berdiri agak jauh dari gazebo. Barulah terlihat siapa dua orang yang tadi ngobrol bersamanya.
Mataku menyipit. Itu seperti ... Mas Khairi dan ... Revan? Apa lagi sekarang?!
.......
Duduk berdua tanpa suara bersama Irfan. Posisi kami kini saling berhadapan di meja makan.
Aku terlalu sibuk dengan berbagai pikiran di kepala, mencerna perihal perbincangan dengan paman tadi. Sembari mengaduk dan melahap sepiring mie instan yang iklannya dibintangi artis ganteng dari Korea.
Malam ini, aku tidak sempat masak. Gara-gara telat pulang, karena ada obrolan tambahan. Irfan bahkan sudah ada di rumah sebelum aku pulang. Dia merengek kayak anak kecil minta makan. Aku yang pada akhirnya mandi terburu-buru, jadi tidak sempat buat ngeringin rambut dan langsung bikin mie. Makanku pun sesekali diselingi menyelipkan beberapa helai rambut yang tergerai ke telinga.
"Kak ...." Irfan manggil. Aku bahkan sempat lupa akan keberadaanya, saking sibuk berpikir sendiri.
Dengan mie yang masih menjulur di mulut, aku mendongak. Kuangkat kedua alis, tanda bertanya 'apa'?
"Kakak ... cantik."
Uhuk! Uhuk!
"Eh, Kak. Minum dulu ... minum."
Irfan menyodorkan segelas air putih yang langsung kutenggak tanpa sisa. Mataku memicing, memastikan apa yang baru saja dia ucapkan.
"Kamu tadi bilang apa, Fan?" Kupastikan lagi sebelum ke-GR-an.
"Kakak cantik kalau rambutnya digerai gitu."
Demi sepiring mie yang iklannya dibintangi artis Korea!!
Aku jadi pengen guling-guling di atas meja. Seindah ini digombalin berondong, ternyata.
Boleh, tidak, bikin Irfan pingsan lagi? Pengen nyium banyak-banyak, kan, jadinya.
"Baru tahu?" Aku pura-pura santai. Padahal, hati tidak keruan rasanya.
"Enggak, sih. Udah tahu sejak pertama ketemu. Cuma, nggak nyangka aja, bisa jauh lebih cantik seperti saat ini."
Hiyaaaaa! Gubrak!!
"Fan."
"Apa, Kak?"
"Ke kamar, yuk?"
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Gantian Irfan yang terbatuk. Malah batuknya lebih parah dariku. Dia tersipu-sipu, lalu pergi ke kamar, meninggalkanku dan mie goreng yang baru dia makan setengahnya. Irfan salting tingkat benua.
...
Beberapa kemajuan mulai terlihat. Irfan, meski dari segi sifat dia masih kekanakan, tapi sudah menunjukkan bahwa dia memang lelaki normal. Dengan Bismillah, kucoba mempertahankan pernikahan ini. Dan cintaku untuk Revan, akan kukubur dalam-dalam.
Seberat apa perjuangan buat Irfan menjadi normal seperti seorang layaknya suami? Akan kucoba menjalani.
Sekarang, kembali ke masalahnya lagi.
Pertama, haruskah kulakukan saran dari Paman dan Bibi?
Kedua, apa yang akan kulakukan untuk menghadapi Revan dan Mas Khairi?
Argghhhhh!
Masalah ini terlalu rumit. Lebih baik aku tidur. Kasihan otakku. TO BE CONTINUE
0 Komentar