| Suami takut istri Eps. 7 |
Novel Dewasa CMD - "Aku mau ngomong," jawabnya.
"Soal?"
"Nggak disuruh duduk dulu, nih?" sindirnya.
Aku mendengkus. Sedikit malas, soalnya. Rasa sakit yang Revan beri perlahan bermetamorfosis menjadi muak dan sebal. Belum menjadi benci, sih. Masih ada sayangnya, malah. Istigfar.
Kami duduk di kursi panjang sisi pintu yang biasa menjadi tempat menunggu pengunjung.
"Ngomong, gih." Kupinta dia untuk bicara. Ingin rasanya agar dia cepat-cepat pergi. Takut imanku goyah. Duduk berdua dengannya, serasa pengen nyandar, gitu.
Stop!
Aku yakin, saat ini ada banyak setan di belakang, atas, kanan, kiri dan di mana saja sedang mengganggu keimananku.
Kuatkaaan ... kuatkan imanku, Ya Allah ....
"Kamu mau, nggak, balikan sama aku?" tanyanya, langsung.
"Hah?"
Kutatap wajah Revan. Baru tersadar, kalau dia ini semakin tampan.
"Balikan? Maksudnya?"
Ngaco nih orang. Ganteng-ganteng tapi oleng. Masa, iya, aku mau dijadiin istri kedua? Lagipula, aku udah punya Irfan. Meski Revan belum tahu kebenaran kalau aku udah nikah. Tidak penting juga, 'kan?
Revan menghela napas. Menegakkan punggungnya, lalu membungkuk lagi. Mirip orang kecapaian.
"Risma ... bukan hamil anakku."
Wajah Revan berubah menjadi sendu.
"Loh, kok bisa?" tanyaku, kebingungan.
"Seminggu yang lalu, kami memeriksakan kandungannya. Kata Dokter, usia kandungan dia sudah enam bulan. Harusnya, kan, baru lima bulan. Itu artinya, dia sudah hamil sebelum berhubungan denganku. Kudesak saat sampai di rumah. Dia pun mengakui. Bahwa janin itu bukan darah dagingku." Revan menjelaskan panjang lebar.
Aku mendecih mendengar penuturannya. Bukan iba yang kurasakan, tapi puas. Rasain!
"Jadi?" tanyaku sok acuh. Padahal, penasaran.
"Aku mau ceraikan dia," katanya.
"Hah! Cerai?"
Revan mengangguk, mantap.
"Maksudmu apa, Van? Semudah itu pernikahan di matamu? Asal ucap ijab kabul lalu bercerai? Semudah itu, kah?" Rasaku mulai kesal. Dia sudah selingkuh dariku, dan minta balikan semaunya? Oh, no!
"Jadi aku bisa apa, El? Aku tersiksa hidup bersama dengan Risma. Ragaku ada bersama dia, tapi di hatiku tetap hanya ada kamu. Cuma kamu! Aku harus gimana? Ini adalah kesempatan bagus untukku ninggalin dia, setelah lahiran nanti. Dan balikan lagi sama kamu. Kita masih saling cinta, kan?"
Tiba-tiba aku jadi pengen nangis. Apa salah, jika merasa terenyuh mendengar pernyataan Revan yang masih mencintaiku? Tidak ... tidak ... ini salah!!
"Nggak, Van. Ini salah. Kamu nggak boleh berpisah dengan Risma. Kasihan, dia. Kamu nggak berhak menikahi dan menceraikannya semudah itu!" Sungguh dramatis. Bagaimanapun, aku juga wanita. Tahu persis bagaimana rasanya jika menjadi Risma. Dinikahi dan ditinggalkan begitu saja. Pasti terasa ... sakit.
"Dia bukan wanita baik-baik, El. Dia buruk. Aku tahu, aku bukan yang pertama menyentuhnya, tapi sama sekali nggak nyangka kalau dia sudah hamil sebelum ada aku. Dia sisa, El, sisa!"
Plakk!!
Tanganku memanas, seiring dengan Revan yang menatap nanar padaku, sambil menyentuh sebelah pipinya yang baru saja menjadi tempat telapak tanganku mendarat.
Mendengar suara tamparan yang cukup keras, membuat Siti dan Dewi menatap kami. Untung, toko sedang sepi.
Aku refleks, tidak terencana. Mendengar kata 'sisa' entah mengapa membuatku meradang. Revan tidak berkaca. Mungkin, dia lupa, hal apa yang membuat kami berpisah.
"Cukup, Van. Jangan umbar aib rumah tanggamu di hadapanku. Kamu bilang Risma sisa? Lalu dirimu apa? Sebersih apa kamu sampai berhak mengatai Risma sedemikian rupa?! Pulanglah."
Aku beranjak meninggalkan Revan. Keluar, ingin pulang. Rasa sakit, marah, kecewa, beradu menjadi satu. Semua rasa itu bersumber dari satu rasa yang masih kumiliki untuknya.
Ternyata, aku masih cinta.
Jarak antara rumah dan toko cukup dekat. Hanya berjalan kaki sebentar, aku sudah sampai. Kulihat dari kejauhan, Revan mengejar. Langkah kaki pun kupercepat.
"El, tunggu. Aku belum selesai bicara!" teriaknya.
Bodo amat. Aku tidak peduli. Hatiku sakit, sekaligus marah.
Kulihat, Irfan baru saja turun dari motor, mau masuk ke dalam rumah. Menatapku keheranan, lalu beralih menatap Revan.
Kutubruk tubuh Irfan yang terpaku, hingga terdorong masuk. Kututup pintu cepat-cepat lalu menguncinya. Irfan bengong melihatku terengah dan berurai air mata.
"Kakak, kenapa?" tanyanya ragu-ragu.
Kusandarkan kepala menghadap pintu. Menggenggam handlenya dengan tangan gemetar. Suara bel, ketukan, serta teriakan Revan terdengar dari luar.
Aku luruh, tubuh terasa lunglai. Merasa masih cinta ... tapi tidak mungkin kembali lagi.
Hatiku terasa begitu sakit. Setelah apa yang sudah kami lewati bersama, tidak semudah itu melupakan dengan waktu yang instan. Meski pengkhianatan yang Revan lakukan cukup menyakitiku, tapi besarnya rasaku untuknya, tidak bisa kuhapus begitu saja.
Beberapa menit kemudian ... sunyi. Revan pergi. Seketika tangisku pun pecah. Meluapkan rasa sesak yang begitu menggumpal di dada
"Van ...." Kupanggil namanya dengan tangan meremas dada.
"I—iya, Kak. Ada apa?"
"Revaaan ...." Rasa itu ... kenapa kembali datang mengingatkan? Aku masih ... mencintai Revan.
Aku tergugu, duduk dengan punggung yang kini bersandar di pintu, memeluk kedua lutut dengan air mata beruraian.
Irfan masih berdiri, mematung menatapku.
Tunggu ... aku tadi, manggil nama Irfan atau Revan?
Kuangkat wajah. Terlihat Irfan turut berwajah lesu. Kini, rasa bersalah dan sesak merayap di dada menjadi satu.
Perlahan aku berdiri. Menatap manik matanya yang menyiratkan banyak tanya. Kuhapus air mata bersamaan dengan menghirup cairan hidung yang menyumbat pernapasan.
Ragu-ragu, aku memeluk Irfan. Ingin menumpahkan tangis dalam pelukannya. Ada perasaan berdosa masih mencintai orang lain, meski sudah punya suami.
"Ma—af, Fan ... maafin aku. Nggak ada maksud buat menangisi dia di depanmu. Maaf," ucapku sambil terisak.
Tubuh Irfan bergetar. Mungkin dia ikut merasa sedih atas penderitaanku. Pelukan pun semakin kupererat. Senyaman ini ternyata, nangis di pelukan suami.
Aku masih tergugu, merasakan sakit dan juga sesal.
"Maaf—In aku, Fan ... Fan ... Irfaaannn jangan pingsan dulu, Fan ... pinjem dadanya bentar lagi. Irfaaaannn!"
Percuma. Tubuh Irfan sudah terkapar. TO BE CONTINUE
0 Komentar