Suami takut istri Eps. 5


Novel Dewasa CMD - Segera kuselesaikan apa yang ingin kubeli. Lalu mengendap-endap seperti maling menuju kasir. Membawa belanjaan yang tidak kalah banyak dari belanjaan Mama tadi. Sungguh kuberharap, agar jangan sampai bertemu mereka. Rasa sakit ini, masih begitu terasa.

Bruk!!

Saat berbalik, tanpa sengaja aku menubruk seseorang. Otomatis, belanjaan jadi tumpah ruah di lantai. Tanpa melihat dia siapa, tergesa-gesa kupunguti barang-barang yang berupa kemasan botol serta plastik kecil-kecil. Seperti kecap, saus, shampo dan kawan-kawan. Jangan sampai bertemu mereka, Ya Allah.

Setelah selesai, aku segera berdiri.
Ketika masih sibuk merapikan belanjaan, orang yang kutubruk tadi menyerahkan barang yang dia bantu pungut. Tadi aku sampai lupa tidak minta maaf. Saking gugupnya.

"Maaf ...," ucapnya, seraya menyodorkan kantung plastik.

Tunggu, itu seperti suara ....

Perlahan, kuangkat wajah.

Duaarr!!!

Perasaan, tidak mendung, tidak hujan, kenapa ada petir yang menyambar hatiku?

"Elyana ...." Matanya membulat. Sama terkejutnya.

Kerongkonganku terasa kering. Kutelan saliva dengan susah payah. Mirip seperti ketika makan kuning telur yang direbus. Seret.

"Re—van," jawabku, gagap. Do'aku kali ini tidak terkabul.

Masih dengan adegan saling tertegun. Dari belakang, sebuah tangan menepuk pundak Revan.

"Sudah, Mas. Ayo," ajaknya. Kepalanya menunduk, mencari sesuatu dari dalam tas slempang yang dia pakai.

Panggilannya itu, loh ... Mas!

Revan bergeming. Masih menatapku dengan tatapan ... entah. Kucoba untuk menetralkan perasaan yang semakin tidak keruan. Rasa itu ... kenapa datang lagi?Padahal, aku sudah cukup yakin bila sudah hilang. Revan masih terus menatapku. Membuatku jadi merasa ....

Astaghfirullah. Kurutuki diri sendiri dalam hati.
Ingat, El ... ingat. Kalian bukan lagi apa-apa sekarang. Revan sudah beristri. Dan kamu ... sama. Sudah bersuami.

"Hay, Ris." Berlagak sekuat baja, kusapa Risma yang belum sadar dengan keberadaanku. Risma mendongak. Wajahnya yang tadi semringah berubah pias seketika.

Kenapa? Merasa bersalah? Percuma!

"El ... yana?" Mata belo itu jadi semakin lebar saat melihatku. Tatapan mereka berdua terlihat seolah-olah aku ini hantu.

"Lagi belanja?" Lagi-lagi, aku sok kuat.

"I—Iya," jawab Risma, gagap.

"Ya, sudah. Aku duluan, ya." Kupasang senyum semanis mungkin, berharap mereka menganggap diriku baik-baik saja.

Tanpa basa-basi bertanya kabar aku pun berlalu, khawatir jika usaha sok kuatku luruh di hadapan mereka. Gengsi, lah. Tidak lupa, kuambil terlebih dahulu kantung plastik belanjaan yang masih digenggam Revan. Erat. Aku segera keluar dari swalayan, berjalan menuju parkiran. Perasaan, tadi pas berangkat deket banget. Kok sekarang jadi jauh, ya?
Ingin sekali rasanya untuk cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Air mata, juga, kenapa nekad keluar tanpa permisi, sih?

Sakit ... butuh bahu buat nangis. Tapi bahu siapa? Sesaat sebelum sampai di mobil, kuhapus air mata. Bahaya kalau sampai ketahuan sama Mama. Bisa diinterogasi.

"Yuk, Ma." Kubuka pintu dan masuk ke mobil. Berlagak tidak terjadi apa-apa. Walaupun hati terasa seperti disayat-sayat. Pandai sekali ternyata, aku bersandiwara. Kupikir, hati sudah sembuh. Tapi melihat mereka jalan berdua, rasa sakitnya sama seperti saat mereka bersanding di pelaminan.

Irfan ... apa bisa kujadikan dia sebagai pengobat lara?

Acara masak-memasak acak adul karena Revan. Apa hubunganya? Ada. Karena dia, pikiran ini jadi ke mana-mana. Fokusku ambyar! Niat hati mau pamer kemampuan memasak di hadapan Mama pun jadi gagal.

"El ... kamu sakit?" tanya Mama. Mungkin wajahku saat ini tampak kuyu. Sekuyu hatiku.

"Enggak, kok, Ma. Aku baik." Kucoba untuk meyakinkan beliau.

Mama pun hanya manggut-manggut. Pada akhirnya, Mama mengundang juru masak di rumah sebelah untuk membantu. Sadar, jika aku tidak mampu mengerjakan semua itu sendirian. Setelah dua jam berjibaku dengan peralatan dapur, kami selesai memasak. Lima menu kini telah terhidang.

"Alhamdulillah ... selesai." Aku menepukkan kedua tangan. Ibu yang membantu di sebelahku juga tersenyum lega. Kami pun menyusun makanan di atas meja.

Ada ikan gurame panggang, ayam kecap manis, sayur lodeh, gulai daging, tidak ketinggalan, pengat ikan depik (ikan endemik Danau Lut Tawar, Takengon. Dimasak dengan bumbu khas Suku Gayo.) Dan perintilan kue serta minuman lainnya.

Lelah? Pasti.

Mama yang melihatku seperti tengah sakit, menyuruh istirahat di kamar Irfan. Beliau mengira anak mantunya ini kelelahan gara-gara belanja dan memasak. Memang benar, sih, sedang lelah. Bukan cuma badan, tapi juga hati.

Kuamati kamar Irfan. Normal, seperti kamar bujangan pada umumnya. Yang mengherankan adalah, tidak ada satu pun stiker artis atau penyanyi seperti anak muda kebanyakan. Melainkan kaligrafi buatan tangan. Irfankah yang buat? Eh, iya. Dia, kan, anak pensantren.

Beberapa saat kemudian, tamu Papa datang. Kami menyambut dan menyajikan jamuan. Papa memperkenalkanku sebagai anak mantunya. Malu. Mereka semua ramah-ramah dan welcome. Bahkan, ada seorang lelaki di antara mereka yang paling muda, usianya mungkin sedikit di atasku. menatap aneh. Mama yang menyadari hal itu, cepat-cepat menyuruh agar anak mantu kesayangannya ini masuk ke kamar lagi. Sepertinya ... takut, aku ditaksir sama dia. Eeaaa!

Ge'eR.

"Ma. Elyana pulang dulu, ya?" pamitku, setelah semuanya selesai. Lelah. Ingin sekali mandi dan menghempaskan tubuh di kasur kesayangan.

"Sudah sore, El. Nginap saja." Papa yang menjawab.

Benar, sih, sudah hampir magrib. Kalau nekad pulang, mungkin ketika azan aku masih di jalan.

"Iya. Irfan juga tadi nelpon, sekalian Mama kasih tau, kalau kamu di sini. Mama kira kamu mau nginap. Makanya Mama bolehin dia pulang malam. Mau ke acara entah apa, gitu," sambung Mama.

Fyuhh, Irfan. Ngasih kabar ke Mama doang, nggak ke istri juga. Dasar!

"Iya, deh." Aku menurut.

Masuk lagi ke kamar. Sesaat kemudian, benar saja azan magrib berkumandang.

Usai salat, aku bergegas mandi.

Tunggu, baju ganti?

Tepok jidat!

Tadinya aku mau menemui Mama. Mau pinjam baju ganti. Tapi urung. Mama, kan, gemuk dan tinggi. Sedangkan aku, ramping dan imut. Kebesaran, lah, pasti. Pada akhirnya, kubuka lemari baju Irfan. Tidak apa-apa kali, ya. Dia, kan, suamiku. Semoga tidak marah, isi lemarinya kuobrak-abrik. Bergegas aku ke kamar mandi, menyiram tubuh lelah ini dengan air hangat. Terasa segar. Meski sedikit aneh, rambutku beraroma rambut laki-laki.

Setelah selesai, kutatap diri di depan cermin. Kemeja irfan cukup panjang, bisa menutup hingga paha. Berpasangan dengan celana boxer biru tua. Kalian tau motif apa? Power Ranger. Tepok jidat lagi. Bosan. Mau keluar kamar malu, pakaianku seperti ini. Pada akhirnya, kuraih ponsel. Membuka akun sosmed yang sudah lama tidak kubuka.

Sejak berpisah dengan Revan, malas rasanya berselancar di dunia maya. Karena di semua akunku berteman dengan dia. Bahkan aku lupa, foto kami di Facebook belum kuhapus semua. Satu per satu kuamati sebelum menghapus.

Tiba di satu foto yang menampilkan kami berdua. Aku ingat, saat itu kami berada di taman dekat rumah, sedang lari pagi. Poseku berada di depan Revan, dua jari membentuk huruf V dan tersenyum manis ke arah kamera. Revan yang berada di belakangku juga sama, bahkan senyumnya lebih lebar.

Tanpa terasa, air hangat menjalar di pipi. Rasanya ... aku ... kangen.

"Astaghfirullah ...." Kuhapus foto itu, lalu segera off. Kuletakkan ponsel di nakas sisi tempat tidur. Mengambil sebuah buku di rak sisi lemari. Berisikan tentang ilmu pertanian.

Hingga sudah masuk waktu isya. Kudirikan salat, setelahnya mematikan lampu, menyisakan lampu tidur yang redup. Tarik selimut, lalu tidur.

Perasaan, belum lama mata ini terpejam. Kudengar suara pintu tertutup. Irfan pulang. Tanpa menghidupkan lampu dia mendekat, lalu bergumam.

"Tumben, Mama nungguin Irfan di kamar. Biasanya juga, di depan tv. Pantesan tadi di sana nggak ada. Bangunin, nggak, ya." Irfan bicara sendiri. Aku disangka Mama.

Jadi, selama ini setiap keluar malam dia ditungguin sama Mama? Dasar anak manja.

Aku bergeming. Selimut masih menutup dari ujung kaki hingga ujung kepalaku. Penasaran, apa jadinya jika dia tau ini adalah aku.

Cekidot!

"Ma ... Irfan pulang. Mama nggak mau pindah?" tanyanya, lirih.

Nih anak amnesia kayaknya, tidak inget, apa, udah punya istri. Harusnya tahu, dong, ini aku. Istrinya.

"Ya sudah, deh."

Irfan menyusul masuk ke dalam selimut. Dia sedikit berjingkat, saat kakinya bersentuhan dengan betisku.

Hening ....

Beberapa saat kemudian, Irfan duduk. Menyibak pelan selimut yang menutup kepalaku.

Satu
Dua
Tiga.

Aku berbalik.

"Huuaaaaa ... Mamaa ...."

Dug!! Praanggg ...! Irfan loncat, nubruk lemari. Lemarinya ambruk. TO BE CONTINUE