Suami takut istri Eps. 4

Novel Dewasa CMD - Pengakuan Irfan yang takut dengan lawan jenis membuat daftar baru untukku semakin pesimis akan keberhasilan hubungan ini. Meski baru kusadari, ternyata Irfan lelaki yang kalem, juga rajin beribadah. Semalam kudengar dia mendirikan salat dan melantunkan ayat suci Al-qur'an. Indah. Tapi, apa itu cukup?


Pagi ini dia bahkan bangun lebih awal dariku. Kembali salat Subuh, mengaji. Lalu bersiap buat ngampus.


"Nggak sarapan dulu, Fan?" tanyaku. Ketika dia baru keluar dari kamarnya.


Irfan menyugar rambut berponinya.


Dengan menggunakan kaos putih dan jaket kulit, celana chino berwarna coklat. Irfan terlihat ... cakep.


"Enggak, Kak. Nanti telat. Pagi ini Irfan mau mampir ke rumah mama dulu, soalnya."


"Kenapa? Pisah semalam udah kangen?" Kugoda, iseng.


Yang digoda nyengir kuda.

See ... dia memang masih anak mama. Untung, ganteng.


"Ya, sudah. Berangkat, gih. Mau pakai motor apa mobil, terserah. Ambil kunci di nakas deket lemari tv."


Irfan melenggang. Tidak ada cium tangan dan dibalas cium kening seperti pasangan suami istri lainnya. Iya, lah. Dia mana tau soal begitu, dan aku juga tidak mengharapkannya.


"Berangkat, Kak," pamitnya, yang hanya kubalas dengan anggukan kepala. Sibuk dengan spatula di tangan, memajumundurkan ke wajan. Masak semur ikan.


"Fan ...." Kupanggil  dia sebelum menghilang dari balik pintu.


Irfan menoleh. "Bisa, nggak, panggil namaku saja. Jangan kakak."


Kalau dipikir-pikir, lucu rasanya. Dipanggil kakak oleh suami sendiri. Yah, meskipun suami yang belum tahu pasti, apa perannya.


Irfan mengedikkan bahu. "Tapi, Irfan lebih nyaman begitu, Kak."


Okelah. Semerdekamu, Fan.


Tiga hari tinggal serumah dengan Irfan, tidak banyak hal yang berubah. Hanya saat malam baru terasa, aku tidak lagi tinggal sendiri. Ada temannya.
Pagi sampai sore Irfan kuliah. Sebenarnya, siang udah kelar. Biasa, lah. Mampir dulu, nyariin ketek emaknya.


Di waktu malam hari, baru kami bertemu. Suasana masih canggung. Irfan bahkan mengalihkan pandangan saat bersitatap denganku. Lucu.


Secepat ini kurasakan nyaman saat bersama dia. Kesan buruk seperti saat pertama kami bertemu, hilang. Karena memang Irfan tidak seperti yang kubayangkan dan dia layak untuk dijadikan teman.


Teman hidup atau teman gimana? Entah.


Kehadirannya tanpa kusadari lumayan mengalihkan perasaan sakit atas pengkhianatan Revan. Siang sibuk di toko. Malam ada Irfan yang mememani ngobrol. Bukan ngobrol, sih sebenarnya. Lebih tepatnya, jadi teman nonton tv.


Gayanya Irfan yang malu-malu, cukup menghibur. Dan entah mengapa membuatku gemas, ingin selalu menggoda.


Hey! Bukankah aku yang seharusnya digoda?

"Kak, lihat celanaku, nggak?" 


Pagi-pagi udah ribut aja tuh anak. Aku yang tengah sibuk ngepel, menjawab tanpa menoleh.


"Celana mana?"


"Celana jeans, hitam."


"Kayaknya masih di jemuran, deh. Belum disetrika, maaf." Kujawab nasih tanpa menoleh. 


Beberapa saat kemudian, balik lagi. "Nggak ada, Kak."


Haish! Beneran ganggu.


"Di jemur—" Aku melongo saat berpaling dan melihat yang terpampang di depan mata. Kuamati penampilannya dari atas sampai bawah.


Kemeja, sepatu, kaos kaki. Normal.


Yang aneh boxernya, gambar Sinchan.


"Beb-bbahahaahaa ...." Tidak mampu kumenahan tawa.


Bayangkan, seorang mahasiswa yang sudah berstatus suami, masih menggunakan boxer motif kartun. Ya, Rabb. Musibah atau anugerah, kehadiran suami yang besar badan doang, tapi kecil di kelakuan.


"Apaan, sih?" Irfan terlihat bingung.


"Enggak. Ayo, kucarikan celanamu." Sambil menahan tawa, kuletakkan alat pel. Lalu berjalan ke belakang. Nyari celana.


"Ini apa, Fan?" Kuraih celana jeans miliknya yang menggantung, tertindih pakaian dalam milikku.


Irfan malah cengar-cengir. Greget, rasanya. Pengen nimpuk itu kepala biar nggak digaruk melulu.


"Jangan bilang kamu nggak mau nyingkirin pakaian dalam itu, makanya bilang nggak ada?"


Haish! Cengirannya lama-lama bikin gemes.


"Kok, tau?" jawabnya.


"Ish! Fan, sini, deh." Kulambaikan tangan agar dia mendekat.


Ingin melihat secara langsung apakah dia beneran takut atau tidak sama perempuan.


Meski terlihat ragu, dia menunduk.


Irfan yang jangkung dan aku yang pendek. Eh, ralat, bukan pendek. Tapi imut. Membuat kami tidak seimbang.


"Kamu, nggak penasaran sama isi yang biasa ditutup pakaian dalam itu?"


Wajah Irfan yang berada di depan mataku terlihat jelas mulai bersemu.


"Engh ... anu, Kak. Irfan berangkat, ya. Assalamualaikum," elaknya. Menarik celana yang kupegang sambil lari terbirit-birit meninggalkanku.


Kutahan tawa sembari menutup mulut.


"Waalaikumussalam. Fan ... pakai dulu celananya!"


Bruukl!!!


Irfan kepleset.


lantai baru dipel. Salah siapa lari.


Aku masih tidak habis pikir, kenapa Irfan yang usianya sudah beranjak dewasa merasa takut dengan perempuan? Dari cerita mama mertua kemarin, Irfan bahkan belum pernah sekadar dekat dengan lawan jenis sama sekali.



Tunggu ... Irfan bukan “gay” kan?


Selesai beberes rumah, niat hati mau ke toko kue. Tapi urung. Mama menelepon, memintaku untuk ke sana. Memang, empat hari jadi menantunya, belum sekali pun kusambangi rumah beliau.


Berbekal alamat yang dikirim lewat pesan singkat, aku berangkat.




Tidak terlalu lama untuk sampai di sana. Karena jarak antara rumahku dan Mama tidak begitu jauh.


"Wow!" Itulah kata pertama yang terucap dari bibirku ketika sampai di rumah Mama. Begitu megah, luas, indah, sejuk. Dan entah apa lagi gambarannya, yang jelas, luar biasa.


Belum sampai kuucap salam, Mama sudah membuka pintu. Salim, lalu cipika-cipiki.


"Masuk, El," ajaknya, seraya mengelus bahuku. Ahh ... lembut sekali mama mertuaku ini. Jadi kangen almarhumah ibu. Hiks.


Aku mengekori Mama. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kaligrafi berbagai bentuk dan ukuran menggantung di dinding. Ada juga beberapa foto keluarga.


Perhatianku tercuri ke arah foto berpigura besar, terletak di sudut ruangan. Irfan kecil berada di tengah-tengah mama dan papanya. Kedua pipinya dikecup. Kentara dari ekspresi mereka. Bahwa Irfan memang anak kesayangan, semata wayang.


"El, ngapain di situ? Sini." Mama mengajak ke dapur. Panggilan untukku lebih santai sekarang. Aku pun mengikuti beliau. Dan lagi-lagi, dikejutkan dengan penampakan dapur Mama yang besarnya tiga kali lipat dari milikku.


"Mau minum apa? Mbok Nah lagi nggak dateng hari ini," tanya Mama. Siapa Mbok Nah? Asisten rumah tangganya mungkin.


"Eh, anu, Ma. Biar El bikin sendiri," jawabku malu-malu.


Mama menungguku di meja makan. Lalu kuseduh kopi roasting asli dari Gayo. Aromanya harum sekali. Kecanduanku dengan kopi tertular dari paman Johan. Sejak aku masih duduk di bangku sekolah SMA dulu.


"Duduk, sini." Mama menepuk kursi di sebelahnya.


"Mama mau bercerita sedikit tentang Irfan," lanjutnya.


Okelah, sepertinya akan ada pidato hari ini. Mari kita dengarkan.


"Kamu pasti sudah tahu bagaimana sifat Irfan, kan?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Manja," batinku.


"Irfan itu manja anaknya. Maklum, anak kami satu-satunya. Meskipun lulus bangku sekolah dasar, kami sudah masukkan dia ke pesantren. Walau berat hati, tapi itu adalah salah satu bentuk kasih sayang kami.


"Ilmu agama paling utama, bukan? Kelak, dirinya akan menjadi seorang Imam. Itulah yang kami pikirkan.


"Hingga lulus Aliyah, Irfan baru pulang, lalu melanjutkan kuliah."


Kusimak dengan saksama penuturan Mama. Berasumsi di dalam hati. Jadi, suami mudaku itu lulusan pesantren. Tapi, kenapa masih manja? Bukannya anak santri itu mandiri?


Kenapa juga dia takut bersentuhan dengan perempuan? Oh, mungkin karena tahu, haram hukumnya bersentuhan dengan non mahram. Dosa. Maklum, anak pesantren.



Eh, tapi, pastinya juga dia tahu, dong. Apa kewajiban seorang suami tentang pemberian nafkah lahir dan batin untuk istri? Yah ... meskipun aku juga belum berharap soal itu, sih.


Belum, atau tidak? Entah.


"El ... maafin Irfan, ya." Mama tiba-tiba minta maaf.


"Maaf? Soal apa, Ma?" tanyaku, bingung.


"Irfan belum menyentuhmu, kan?"


Uhuk!!


Pertanyaan yang sukses membuatku tersedak kopi. Kok, Mama bisa tau?


Yang kulakukan hanya menggaruk tengkuk. Haruskah kujawab 'belum'? Malu, kan?


"Dia seperti itu karena kami salah dan berlebihan dalam menerapkan pengertian tentang batasan mahram.


"Irfan, sejak kecil kami larang untuk bergaul dengan perempuan. Di pesantren pun kami carikan yang santrinya khusus untuk laki-laki. Kami lupa, jika ada beberapa wanita yang boleh dia dekati.


"Karenanya, dia jadi takut dan gemetar kalau berdekatan apalagi jika sampai bersentuhan dengan lawan jenis. Kecuali, sama Mama."


"Jadi ...?" Pertanyaanku menggantung. Mau nyalahin Mama, tidak mungkin, dong. Mama seperti itu hanya karena ingin melindungi Irfan. Meskipun sedikit keliru.


"Iya ... jadi, tugasmu membuat Irfan tidak takut lagi dengan perempuan. Terutama, denganmu. Salah satu alasan kami ingin menikahkan Irfan adalah, biar dia bisa menghilangkan ketakutan dengan lawan jenis. Kami berharap, pernikahan kalian akan bertahan, dan kamu bersedia melahirkan cucu untuk kami."


Duh! Berat bener ini tanggung jawab.


"Tapi, Ma ...." Menyadari akan kesulitan amanah Mama untuk dijalankan, kucoba untuk menolak. Masa, iya istri yang ngemong suami?


What the ....


"El ... kami sudah yakin denganmu. Meski pernikahan kalian tidak direncanakan. Kami tetap berharap, pernikahan ini bisa diresmikan suatu hari nanti. Kamu sudah dewasa. Mama mohon, tuntun Irfan." Mama menggenggam erat tanganku. Ada harap di sorot mata teduhnya.


Belum selesai kami mengobrol, papa mertua datang. Padahal, masih ada jurus maut lain yang mau kukeluarkan. Untuk menolak uji nyali meluluhkan Irfan.


Setelah berbasa-basi denganku, Papa memberi perintah.


"Ma, nanti akan ada tamu dari luar kota mau ke sini. Tolong siapkan jamuan."


Mama menatapku, roman-romannya mau minta tolong.


"El, kita belanja, yuk?"

.


Harapan belanja di toko, mall, atau apalah yang penting jual makanan sekaligus pakaian, luruh sudah.


Tadinya, aku berharap dibelanjain baju bagus sama Mama. Eh, ternyata ....


"Ikan ini berapa sekilonya, Pak?" Mama mulai nawar.




Setelah selesai tawar menawar, sebagai mantu yang meski tidak direncana menikah dengan anaknya, aku berusaha menjadi yang terbaik. Belanjaan Mama yang banyaknya berkantung-kantung plastik, aku yang bawa. Okelah, no problem.


"Ma, El lupa sesuatu, deh." Sesaat sebelum pulang, baru teringat kalau beberapa keperluan dapur dan kamar mandi di rumah juga habis. Kenapa tidak sekalian belanja? Kebetulan, di dekat pasar ada swalayan.


"Ya sudah, Mama tunggu di mobil, nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa kok, Ma."


Mama meraih dompet dari dalam tas. Baik banget, baru kemarin dapat transferan, sekarang mau dikasih lagi. Cash!


Setelah mengambil beberapa lembar uang lalu diberikan padaku.


"Mama titip minyak goreng sama gula, ya. Baru ingat juga kalo habis."


Jiaahhh! Kepedean, kirain mau dikasih buat anak mantu.


"I—Iya, Ma." Aku mendadak gagap. Menghalau rasa malu akibat terlalu percaya diri.


Kupilih mini market yang tidak jauh dari parkiran. Ketika sedang asyik memasukkan belanjaan ke keranjang, tiba-tiba dari balik rak bagian susu ada suara yang menarik perhatian.


"Mas, bagusnya merk apa, ya, susunya," tanya seorang perempuan. Suaranya ....


"Apa sajalah, pilih yang paling bagus, agar pertumbuhan anak kita di dalam rahimmu juga terjamin." Kini suara lelaki yang menjawab.


Tidak salah lagi. Mereka ...? TO BE CONTINUE