| Suami takut istri Eps. 3 |
Novel Dewasa CMD - Rasa kesal dan marah bertumpuk dalam dada. Apalagi jika teringat dengan reaksi Irfan semalam. Bisa-bisanya dia sengaja diam tidak membela diri, saat diarak warga dan dipaksa menikah denganku.
Haish! Geram rasanya, ditambah lagi saat tahu apa yang menjadikan alasan dia pasrah seperti itu di rumah Paman tadi.
“Sebenarnya, semalam Irfan kabur dari rumah. Karena Mama mau menjodohkan Irfan dengan anak temennya. Dia jelek, gendut lagi. Irfan ogah, mendingan juga, nikah sama Kak El. Dia cantik.”
Mencari kesempatan dalam kesempitan. Irfan dan paman Johan sama-sama tersangka dalam hancurnya masa depanku. Apa jadinya nanti, memiliki suami yang masih teramat sangat muda. Apakah dia bisa kujadikan imam? Entah.
Biar saja kutinggalkan Irfan di rumah Paman. Mau pulang ke mana, terserah. Lebih baik aku pulang ke -Pegasing-rumahku. Membantu Siti dan Dewi, membuat kue di toko.
Hingga malam menjelang, suami mudaku itu tidak juga datang. Ah, lega rasanya. Aku bahkan kini berharap, dirinya tidak akan pernah menampakkan batang hidungnya. Rasanya begitu bebas, bisa tidur nyenyak tanpa ada dia di kamarku seperti kemarin malam.
Namun, tidurku terbangun ketika hampir tengah malam, mendengar dering si benda pipih yang kuletakkan di atas nakas. Nama Paman Johan tertera di layar. Dengan malas, kugeser gambar telepon berwarna hijau.
“Hallo, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. El ... maafkan Paman. Paman sudah salah kira."
Suara Paman sedikit parau. Mungkin dia baru menyadari kesalahannya. Ckck. Kenapa baru sekarang dia sadarnya?
”Iya.“ Kujawab, singkat.
"Besok Paman datang ke rumahmu. Tunggu, ya."
Paman memang selalu begitu. Datang ke rumah, membujuk saat aku marah. Cuma Paman yang selama ini bisa mengerti aku. Dia layaknya ayah dan juga abang bagiku.
Tidak banyak yang kukatakan dalam obrolan. Selera humor raib saat sedang marah. Padahal biasanya, kami selalu bersenda, kapan pun dan di mana pun. Di telepon, maupun saat bertemu langsung. Paman Johan. My Uncle and My everything.
🌄🌄🌄
Pagi.
Selesai sarapan aku memulai pekerjaan rumah dengan mencuci baju. Hidup sendiri selama beberapa tahun, membuatku mandiri. Mengepel, nyapu, masak, cuci. Semua aku kerjakan sendiri. Meski memiliki toko kue, tapi dengan dua asisten semua terkendali. Tanpa harus setiap saat aku campur tangan. Mereka sudah mahir membuat kue dengan arahan dan ajaranku sebelumnya.
"Assalamu'alaikum ...." Kegiatan mencuci terhenti karena suara bel dan ucapan salam terdengar dari luar. Sepertinya itu suara Bibi.
Segera kupakai jilbab, berlari ke kamar mengambil gamis panjang. Di rumah, kebiasaan pakai baju serba pendek.
"Wa'alaikum salam." Kujawab setelah berada di depan pintu.
Mulutku menganga mendapati siapa yang datang. Paman, Bibi, dua orang paruh baya. Dan tentunya, Irfan. Kukira, Paman mau minta maaf doang. Tidak tahunya bawa pasukan. Buat apa?
"El ...." Bibi dada-dada di depan mataku. Menyadarkan dari kebengongan.
"Eh ... i—iya ... mari, silahkan masuk," ajakku. Mirip orang gagap.
Aku mendahului mereka. Mempersilakan duduk di ruang tamu. Lalu kutarik Bibi ke dapur.
"Bi, itu siapa?" tanyaku menyelidik.
"Mertuamu," jawab Bibi singkat.
"Mer ... tua?" Kaget? Pasti.
"Iya ... jadi, semalam Mas Johan anterin Irfan pulang. Sampai di sana, dia menceritakan detail kejadian antara kalian sama orang tua Irfan. Tau nggak, El, mereka seneng loh, kalian menikah." Penuh semangat Bibi menjelaskan.
Kamu akan menyukai ini
THEORUZ oleh LilyLayu
- Devinisi jagain jodoh sendiri - "Gue kira jagain bocil biasa, eh ternyata jagain jodoh sendiri. Ternyata gini rasanya jagain jodoh sendiri, seru juga" ______...
About Us (Argantara 2) oleh fafayy_
Ini kisah mereka yang dimulai kembali, kisah Argantara yang ditulis kembali dengan lembar baru. Tentang kita, yang akan menceritakan semuanya. Cinta, persahabatan, pendi...
Mafia Widower oleh Syifa_Rin
⟨⟨END⟩⟩ "Hiks... Hiks..." Seorang anak kecil menangis dibawah pohon besar dekat taman, mengalihkan atensi seorang gadis yang tengah termenung tak jauh dari pos...
GARVIN oleh RtnaAnj
"Garvin, udah mau belum jadi temen Rubby?" "Lo tanya itu terus, nggak bosen?" "Nggak! Rubby nggak bakal berhenti tanya sampai Garvin mau jadi te...
Pangeran Sekolah oleh Indahalca_
❲ ☁︎ ࣪⸙ ͎ Follow Dulu Oke ✦ ֶָ֗ ↷ ❳ "Apaan ini kenapa gue bisa masuk ke tubuh cewek yang sifatnya kayak nenek lampir begini?!" Keira Alicia, Gadis yang hidu...
"Hah! Seneng?"
Speechles. Kenal saja tidak, bertemu sama aku juga belum pernah, kok bisa senang?
"Iya, seneng. Mertua kamu itu ternyata relasi bisnis mas Johan. Dia punya kilang kopi di beberapa daerah. Mereka udah lama juga kerja sama. Mas Johan sebagai penyetor biji kopi hasil dari petani langsung, dan mertua kamu sebagai pengekspor ke luar kota, bahkan luar negeri."
Alisku bertaut, telunjuk kuketuk-ketuk di dagu. Ini mencurigakan.
"Sudah ... kita buatkan dulu mereka minuman. Nih, bantu gendong Zaidan. Biar Bibi yang buatkan." Bibi menyerahkan Zaidan padaku. Kugendong adik sepupuku yang berusia setahun itu. Gemas. Kuciumi pipinya. Meski masih dengan seribu tanda tanya di kepala.
..
"Jadi begini, Nak Elyana. Kami menyetujui pernikahan kalian," ucap Bapak yang entah siapa namanya, yang kini menjadi mertuaku itu.
Usianya sudah cukup tua, rambut putih bertebaran di kepala. Tapi masih meninggalkan jejak ketampanan di masa mudanya dulu.
"Iya, Nak. Kami setuju," imbuh wanita di sebelahnya. Usianya juga sudah tua, tapi masih terlihat anggun. Khas orang kaya.
"Tapi ... Pak, Bu ... kami menikah atas ketidaksengajaan." Kuberanikan diri mengungkapkan isi hati. Sejujurnya, aku ingin pernikahan ini dibatalkan.
"Kami tahu. Tapi pernikahan kalian sudah sah di mata agama. Tinggal mengurus di hukum negara. Dan juga resepsi bisa nyusul."
Tunggu, resepsi? Aku dan Irfan, disandingkan di pelaminan? Oh, tidak!
"Tapi, saya ingin membatalkan pernikahan ini," ucapku tegas. Sontak mereka terkejut.
"Kenapa?" Kini, Paman angkat suara.
"El, kan, nggak kenal sama Irfan. Lagian, dia masih kecil." Mataku beralih menatap Irfan, yang sedari tadi diam saja. Cemen dia, memang!
Papa dan mama Irfan justru malah tersenyum.
"Benar, anak kami ini memang masih kecil kelakuanya. Hanya besar badan saja." Nah, kan! Emaknya aja mengakui.
Kulihat, Irfan merengut dengan penuturan mamanya. Muka ditekuk, khas anak kecil ngambek.
"Irfan ... anak kami satu-satunya. Dia lahir di usia kami yang tidak lagi muda. Karenanya kami terlalu berlebihan dalam memanjakan. Dan sekarang, usia kami semakin tua. Ingin sekali memiliki cucu. Kalau punya anak lagi, tidak mungkin, kan?
Karenanya kami bermaksud menjodohkan Irfan. Tapi dia malah kabur. Tidak bisakah kamu pertimbangkan lagi, Nak?" tutur mama Irfan, menatapku penuh harap.
"Tapi ... dia ... berandalan. Pak, Bu."
Bibi menyenggol lenganku. Memang pernyataan ini sedikit kurang sopan. Tapi, kan, aku hanya mengungkapkan apa yang ada di pikiran. Berharap mereka menyadari keburukan anaknya dan membatalkan pernikahan kami.
Lah ... kenapa mereka justru kembali terkekeh?
"Irfan itu bukan berandalan, Nak. Dia itu anak yang polos dan manja. Jika asumsimu timbul gara-gara penampilannya. Itu karena kemarin malam kami mengajak dia ke rumah calon istri yang kami pilih.
Irfan yang datang terlambat malah merubah penampilan. Demi membuat kesan buruk sama keluarga calon besan kami. Agar perjodohannya batal. Ya, jelas, papanya marah. Irfan kabur setelah dimarahi habis-habisan."
Penuturan mama Irfan membuatku menghela napas. Garuk-garuk hidung, pipi, dan dagu. Ck! Kebetulan yang menyebalkan!
"Tapi, Bu—"
"El ...." Paman menyela, "Coba dulu. Kalian, kan, bisa saling mengenal. Kalau sudah saling kenal dan tidak menemukan kecocokan, baru kalian boleh memutuskan langkah selanjutnya."
Kembali kuhela napas berat. Menatap mereka satu per satu. Ada harap dan ingin pada raut wajah kedua orang tua Irfan. Juga Paman dan Bibi. Sedangkan Irfan, haish! Apa kebiasaan itu tidak bisa diganti? Cengar-cengir, sambil garuk-garuk kepala.
"Baiklah ...." Aku pasrah. Tidak ada salahnya mencoba. Setelah kupikir-pikir, aku juga tidak mau jadi janda perawan yang tidak lagi terlalu muda. Dan mungkin ... kehadiran Irfan bisa membantu melupakan Revan. Meski ragu.
Senyum merekah di wajah mereka semua. Tidak terkecuali, Irfan.
"Alhamdulillah ... terimakasih, Nak. Kami tetap akan membiayai kuliah Irfan. Dan uang yang sama jumlahnya, akan kami berikan padamu juga."
"Oh, tidak perlu, Bu. Saya sudah punya penghasilan," tolakku secara halus.
"Tidak, Nak. Kamu juga anakku sekarang. Sama seperti Irfan. Biarkan kami tetap memberi uang untuk kalian, hingga saatnya Irfan mampu membiayai diri sendiri. Juga anak istrinya."
Wew! Rada gimana gitu, dengar kata 'anak'. Emang bisa, anak kecil seperti Irfan bikin anak?
Ah, iya. Irfan sudah bukan anak kecil yang sesungguhnya. Meski menurutku, dirinya terlihat masih kanak-kanak.
"Tapi—"
"Sudah-sudah. Jangan menolak." Papa Irfan memotong ucapanku.
Okelah. Pasrah lagi. Mendapat uang dari mertua bukanlah hal buruk.
Tunggu! Mertua?
Ya Rabb. Atas nama-Mu aku berharap, semuanya ini adalah mimpi. Bagaimana bisa, aku memiliki mertua dan suami dalam waktu sesingkat ini. Aku bahkan tidak mengenal mereka sebelumnya sama sekali. Dan lagi, cintaku ... masih tertambat di hati Revan.
"Fan, mulai sekarang, kamu memiliki tanggung jawab atas Elyana. Kamu sudah menjadi seorang imam. Ingat, jangan lagi bermanja-manja dengan mamamu. Kamu harus berubah. Mengerti?" Papa Irfan memberi wejangan.
Irfan, suami mudaku itu, hanya manggut-manggut.
Duh, Gusti ... kulihat dia bagai anak kecil yang sedang dinasehati orang tuanya.
Lolipop—Mana—Lolipop?
"Baik, Pa, Ma. Irfan akan berusaha," jawabnya.
💐💐💐
Obrolan yang cukup lama berlangsung lancar. Yang intinya, Irfan akan tinggal di rumahku. Dan aku menyanggupi untuk mencoba menjalani kehidupan rumah tangga ini. Uang bulanan akan kami dapatkan. Masing-masing. Punya Irfan aku yang bawa. Lucu, sih. Tapi kata Mama, iya, kupanggil mertuaku Mama mulai sekarang. Beliau yang meminta. Baiklah.
Kata Mama, Irfan boros. Tidak pandai mengatur duit. Okesip. Jadi Bendahara suami sendiri. No way?
Namun, sedari tadi aku terus berpikir. Irfan, boleh tidak, kalau kuanggap dia sebagai adik saja?
Setelah larut malam, mereka sudah pulang. Kini tinggal kami berdua saja.
Bingung, mau apa. Sekecil-kecilnya Irfan di kelakuan, dia juga lelaki baligh. Dan ... suami istri kan berkewajiban saling melayani?
Arghhhhh!! Jadi pengen pingsan lagi.
"Kak, Irfan mau ngomong," ucapnya saat aku hendak membuka pintu kamar.
"Apa?" jawabku, datar. Menahan rasa yang tidak menentu. Deg-degan bercampur gugup.
"Emmm ... Irfan ... boleh nggak kita beda kamar?" tanyanya ragu.
Yes!
"Boleh, boleh banget, malah." Antusias kusetujui. Biar dia tidur di kamar yang biasa digunakan Paman.
Irfan tersenyum manis. Lumayan, sih. Imut.
"Irfan tahu, kok. Kak El, belum bisa nerima Irfan. Begitu pun, Irfan. Belum siap sebenarnya untuk berumah tangga. Irfan juga ... takut."
Takut? Bukannya kebalik, aku yang seharusnya takut?
"Takut kenapa?" tanyaku penasaran.
"Sebenarnya ... Irfan kalau dekat-dekat perempuan, apalagi kalau sampai bersentuhan, sering ngerasa ... mau pingsan."
"Hah?" TO BE CONTINUE
0 Komentar