| Suami takut istri Eps. 1 |
Novel Dewasa CMD - Aku berdiri, merasa kebingungan. Memegang jaket kulit berwarna hitam dan tas merah di tangan.
Bengongku ambyar karena mendengar suara krasak-krusuk di belakang. Ada pergerakan di balik pohon yang tidak jauh dari tempatku berdiri.
Belum sempat aku melihat ada siapa, kembali dikagetkan oleh segerombol bapak-bapak dan para pemuda tengah berlari ke arahku.
Seketika aku mundur dan hendak pergi. Takut kalau mereka gerombolan orang yang mau tawuran. Langkahku terhenti saat mendengar salah satu dari mereka teriak.
"Hey! Itu dia. Tunggu, jangan lari," serunya, sambil menunjuk ke arahku.
Kakiku serasa terpaku, sulit untuk digerakkan. Rasanya begitu takut dan terkejut. Siapa mereka, apa salahku?
"Benar, itu dia. Lihat, baju, jaket dan tasnya. Ini sama persis dengan milik perempuan tadi." Salah satu dari mereka mendekat, mengamati tas dan jaket yang wanita tadi titipkan.
"I-ini, bu ... bukan punyaku, Pak. Ini tadi ada yang menitipkan." Aku menjelaskan dengan terbata-bata.
"Aahh ... bohong, kami tidak bisa ditipu, ya, Mbak. Meski hanya sekilas, tapi kami ingat pakaian kamu. Sekarang, mana laki-laki tadi?" sergah bapak-bapak berperut gembul.
"Laki-laki? Si-siapa, Pak? Dari tadi saya sendirian." Mendadak bingung dan takut. Berada di tempat yang bukan daerahku. Sendirian. Dan sekarang, dituduh oleh gerombolan bapak-bapak.
"Sudah, Mbak. Jangan mengelak. Kasih tau, laki-laki teman mesum Mbak tadi di mana? Kalian harus segera dinikahkan. Sudah ke sekian kali kalian berbuat mesum di dusun kami. Ini tidak benar, dan harus segera diselesaikan. Kalian telah berzina. Apa kalian tidak takut dengan azab Allah? Kami tidak mau satu kelurahan kena sial gara-gara kelakuan kalian itu. Berzina di rumah kosong, berulang kali. Untung, saja, pemuda di daerah kami tau dan telah mengintai kalian," tutur bapak yang terlihat paling berwibawa.
"Hah?" Aku melongo dengan tuduhan demi tuduhan yang bapak itu lontarkan.
"Aduh!" Ketegangan terjeda saat ada suara dari balik pohon yang tadi sempat kulihat bergerak.
"Itu pasti dia." Bapak yang bertanya keberadaan laki-laki yang entah siapa, mendatangi asal suara.
"Nahhh ... ini, dia ...." Bapak tadi menarik lengan seorang lelaki dari balik pohon.
"Eee ... eee, apa-apaan ini, Pak?" Seorang lelaki bertubuh tinggi, usia tanggung. Penampilannya urakan, tangannya tengah sibuk membenahi resleting celana. Merasa tidak terima dengan perlakuan bapak tadi.
"Tertangkap, ya, kalian sekarang. Lihat, dia bahkan belum selesai mengancingkan celana. Sudah, Pak RT. Ayo kita bawa ke masjid untuk dinikahkan." Seorang lelaki lain menimpali.
"Apa?!" seru kami bersamaan. Lalu lelaki itu beralih menatapku. Aku juga mengamatinya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Satu kata yang cukup mewakilkan. BERANDAL!
"Menikah? Aku? Nikah sama siapa?" Lelaki itu kebingungan. Sama denganku.
"Pak, kalian salah paham," ujarku.
"I-iya ... kalian salah paham." Lelaki tadi turut membela diri. Meski belum paham duduk permasalahannya.
"Halah ... maling, mana ada yang mau ngaku," sahut suara pria yang entah dari mana.
"Pak, kami tidak saling kenal." Aku mulai mengiba. Tiba-tiba saja perutku terasa perih dan mual. Kepala juga berat. Sepertinya asam lambungku kambuh.
"Ini sebenarnya apaan, ya, maksudnya?" Lelaki itu masih belum mengerti. Lagian, ngapain juga dia berada di sana, tadi? Kalau saja tidak ada dia, masalah tidak akan semakin runyam.
"Sudah ... sudah. Mbak, Mas. Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian. Jangan bersandiwara." lelaki yang disebut Pak RT tadi menyela.
"Tapi, Pak?" tukasku.
"Kita panggil penghulu," kata Pak RT.
"Hah, Penghulu?" Aku terkejutlah, pasti. Ngapain bawa-bawa penghulu?
Alih-alih menjawab, mereka justru melontarkan pertanyaan. "Mbak, apa ada keluarga yang bisa dihubungi?" Kali ini seorang pemuda yang bertanya.
"A-ada. Pa-paman ... Johan," jawabku terbata-bata, takut sekaligus menahan nyeri di perut.
Aku akan menghubungi Paman, minta pembela dan perlindungan.
"Maaf, bolehkah saya menunggu di dalam mobil?" pintaku memelas. Sudah tidak tahan dengan rasa mual dan nyeri di perut.
"Wah, bilang saja mau kabur," celetuk seorang pemuda lainnya.
"Enggak, Bang, perut saya sakit," jawabku.
Kuambil kunci dari dalam tas. Memberikan kepada pemuda yang menuduhku.
"Ini kunci mobil saya. Kunci dari luar sampai Paman datang menjemputku," ucapku, meringis menahan sakit dan dengan tangan memegang perut. Lelaki yang terlihat mirip berandalan tadi hanya cengar-cengir. Melihatku dari atas ke bawah.
Argggghhh. Menyebalkan!
Di dalam mobil, aku berusaha menghubungi Paman. Sedangkan mereka semua menuju sebuah masjid yang tidak jauh letaknya. Hanya di seberang jalan.
Tubuhku terasa lemas. Baru ingat, sejak sore perut ini memang belum terisi apa pun. Saat di pesta tadi, boro-boro mau makan, mengatur perasaan saja sangat kesulitan.
"Ya Allah ... apa salahku?"
Setelah beberapa kali suara nada sambung, teleponku baru diangkat paman.
"Paman, tolongin El," pintaku memelas. Kujelaskan hal buruk yang menimpaku. Meski tidak secara detail. Biarlah. Yang penting, paman sampai dulu di sini.
Belum selesai kami berbicara di telepon, kesadaranku mengambang. Kepala terasa pusing, perut mual dan perih. Kusandarkan kepala di kemudi, karena rasanya benar-benar sakit.
Beberapa saat kemudian, samar-samar kulihat Paman datang dari arah berlawanan.
"Paman ...," panggilanku jelas tidak terdengar, karena jarak kami terhalang jalanan. Kedatangannya disambut oleh dua orang lelaki di depan pintu. Sekilas, Paman menoleh ke arahku dan geleng-geleng kepala. Entah apa yang mereka katakan.
Lalu, paman masuk ke dalam masjid tersebut.
Tunggu ... apa yang mereka katakan pada Paman? Bukankah aku menghubungi dia untuk membelaku? Kesalahpahaman ini harus diluruskan.
"Pamaannn ... Pamaann ...." Kubuka pintu. Ah, terkunci dari luar. Kembali berteriak sekuat tenaga untuk memanggilnya pun percuma. Lalu kuraih ponsel dan menghubungi paman, tapi tidak diangkat.
"Paman Johan ...." Suaraku mulai hilang. Rasa perih dan mual semakin menggila. Kesadaranku hanya tinggal setengahnya saja. Baru teringat dengan keberadaan obat syrup yang selalu kubawa di mobil, jaga-jaga kalau asam lambung kambuh sewaktu-waktu.
Namun, reaksi obat ini begitu lama. Kepala dan perutku masih saja terasa sakit. Hingga tidak lama kemudian, samar-samar suara "Sahhh ...." Menggema dari dalam masjid.
"Pamaann ... apa yang kau lakukan?"
Seketika, semuanya menjadi gelap. TO BE CONTINUE
0 Komentar