THIRSTY MAID Episode 2

Novel CMDAku ingin dia meleburkanku dan segera membopong tubuhku ke tempat mana pun di mana dia ingin meniduriku. Dengan tersisa sedikit napas yang bergemuruh di dada, aku pun melangkah.

Melintasi dirinya adalah kegiatan yang mengerikan di muka bumi. Betapa tersiksanya diriku ketika harus melawan serbuan feromon yang menguar dari tubuhnya. Mr. Multimiliuner ini benar-benar lezat dan menggiurkan. Dengan cepat aku bahkan merasa sedih, respon naluriah atas diriku yang ketakutan dan waswas membayangkan diriku tidak bisa berhadapan dengan dirinya kembali.
Tubuhku berhasil keluar dari bilik dan candu akan dirinya membuatku memberanikan diri untuk berbalik.

Menyaksikan bagaimana Cassilas Susnjar memutar tubuh dengan anggun serta mengintip bagian belakang lehernya yang keras dan kasar berhasil membuatku tersedu melihat penampakan paling indah di planet bumi.

Ketika wajahnya kembali menyerbuku, aku tidak bisa berhenti untuk tidak menatapnya. Persetan dengan hormat dan rasa malu. Aku tidak peduli.
Aku pun terkesiap ketika Mr. Multimiliuner itu bergerak indah dan jantan. Satu tangannya terulur menekan tombol pada lift, diiringi dengan suaranya yang memecah langit hatiku seperti kilat pada malam hari. "Apakah kau baik-baik saja?" Mengejutkan.
Suara halus dengan nada serak itu menggema di telinga. Aku mungkin bisa saja mencapai orgasme apabila mendengar beberapa patah kata lagi dari suaranya.
Seandainya aku berada di kamar dan memiliki Mr. Susnjar di sana, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menerjangnya dan merobek pakaian di tubuhnnya sehingga kancing-kancingnya berhamburan di lantai.

Apakah aku sebelumnya pernah bersumpah tentang dirinya? Aku bersumpah bahwa aku ingin menengadah dan melihat wajahnya mengeras. Aku ingin menatap raut puasnya ketika aku memberikan kepuasaan yang mendalam untuknya. Aku ingin mendengar geraman liarnya. Aku ingin hancur-lebur akibat desakannya. Aku ingin menjerit melawan tekadnya. Aku ingin menangis karena pemberiannya. Aku ingin menggeliat dan mencapai puncak untuknya. Aku ingin merinding dan gemetar nikmat ketika Mr. Multimiliuner yang keras dan luar biasa itu menumpahkan gairah cintanya yang deras ke dalam tubuhku paling dalam sehingga aku nyaris mati merasakan alirannya.
Aku mengerjap dan membuyarkan lamunan. Paru-paruku bekerja dengan sulit seolah udaraku dihisap habis oleh dirinya. Kusadari bahwa detik ini aku sudah terperosok jauh ke dalam pusaran kekuatannya, tetapi aku berdusta hanya karena aku tidak sanggup untuk melawan energi yang besar. Aku mendesis. "Ya, aku baik-baik saja."

Mulut penuhnya memberengut muram dan kurasakan dia sedang memeriksa diriku. Pipiku memanas menebak pendapatnya tentang diriku tetapi kemudian dia melepaskan diri.
Pintu yang disepuh aluminium itu telah tertutup serentak dengan diriku yang mengembuskan napas dengan kelegaan yang besar. Seakan tali yang mengikat di dadaku telah melonggar. Aku melangkah dengan tak seimbang menuju tembok dan menyandarkan punggung di sana. Aku merogoh isi tas dan mengirimkan pesan melalui smartphone-ku.

"Dia di sini dan terkutuklah kau, Paul Anderson putra dari tuan Michael Anderson."
Aku mengumpat karena kagum akan ketangkasan Paul dalam menghitung waktu. Dia mengusirku dari kantornya sehingga aku bisa menikmati pertemuan mahadahsyat antara diriku dan calon atasanku yang seksi. Aku bisa membayangkan bagaimana Paul tersenyum geli menerima isi pesanku saat ini.
Tentu saja aku akan mencekik pria berkulit pucat itu ketika aku memiliki kesempatan. Aku tidak akan membiarkan sahabat terbaikku itu bergembira di atas penyiksaan yang dilatari dengan rencananya.
Aku tidak menerima balasan pesan melainkan panggilan masuk. "Keparat." umpatku tanpa basa-basi.
Tawaan Paul terdengar sehingga ketenangan perlahan menjalari diriku. "Seandainya aku bisa melihat reaksimu tadi itu, mungkin itu lebih baik untuk kebahagiaanku seumur hidup. Tetapi ya, aku ingin memberikan privasi pada kalian."

Napasku masih panas. "Omong-kosong. Kau dan dirinya keparat. Aku tidak pernah menemui sosok jantan dengan pesona seks yang memanggil-manggil gairah dalam diriku."
Paul berceletuk. "Dia akan menidurimu, baby girl." Peringatan Paul membuatku gemetar.
"Dia sudah meniduri banyak wanita dan sudah pasti lebih seksi daripada diriku. Uang dan jumlah feromonnya bekerja dengan sangat baik. Tentu saja." Aku membalas Paul, menggigit-gigit bibirku sendiri membayangkannya.

Suara Paul terdengar lebih rendah dan berbisik. "Kau yang terakhir."
Telepon terputus dan aku memandang layar ponselku. Ini benar-benar mengerikan. Aku akan terperangkap di dalam kandang singa yang siap menerkam. Oh astaga, masalah baru menyapaku kembali. TO BE CONTINUE