THIRSTY MAID Episode 1

Novel CMD - Jemariku menjumput secarik kertas dan menundukkan kepala membaca tulisan di sana.

"Kalian tidak pernah melakukan kesalahan. Kalian adalah malaikat-malaikat kami. Hanya saja kami yang memilih untuk melakukan kesalahan. Miranda, aku menitipkan mereka padamu karena kau malaikat terbaikku."

Aku mendesah dan menarik napas dengan cepat. Aku menjatuhkan kertas itu di meja dan udara yang kuhirup sepagi ini terasa menyesakkan. Kedua tanganku terangkat ke leher lalu menyugar rambut panjangku yang terjatuh lurus.

Astaga, aku sudah terbiasa dengan keadaan yang kuhadapi pukul enam ini, tetapi yang membuatku tak setegar sebelumnya karena aku tak pernah menyangka bahwa ibuku yang kuanggap mahluk paling berbesar hati di muka bumi ternyata melakukan hal yang sama padaku. Dan kini aku membencinya karena itu berarti dia juga bertindak yang sama terhadap adik-adikku.

Satu-satunya yang ingin membuatku menangis detik ini membayangkan nasib anggota keluargaku yang bahkan masih merengek di malam hari. Mereka sudah kehilangan pembimbing untuk menuliskan atau mendorong mereka untuk menentukan nasib.

Tetapi aku menyeka setetes air mata yang bergulir di ujung mataku, bersumpah bahwa akulah yang akan mengurus mereka meskipun aku harus melewati dunia dengan pontang-panting, aku tidak akan bergeser seinci pun dari harapan mereka.

"Miranda, apa yang terjadi?" Suara itu membuatku tersentak. Aku menoleh.

Aku menarik napas dan mengangkat dagu seringan mungkin. Mataku menatap Rue dengan bara semangat. "Tidak ada. Hanya saja hidup kita yang akan tetap harus berlanjut."

Adikku yang tertua melirih setelah dia bergeming sejenak. Karena dia satu-satunya adikku yang sudah mengerti bagaimana sistematis kehidupan di dunia dengan cara pandang usianya yang remaja, serta dia yang paling kuandalkan di rumah untuk menjaga anggota yang lain, Rue sangat mengenalku dan tahu dengan mudah apa yang kualami melalui pandangan mataku. "Ayolah, betapa mengerikannya ini? Kau cantik, aku tampan, Neil menggemaskan dan Isela mungil—dan siapa yang tidak ingin mencubitnya?"

Dia menundukkan wajahnya yang merah karena amarah, lalu melihatku kembali. "Apa salah kita, Miranda? Sekarang Mom pun memisahkan diri."

Karena aku merasakan keresahannya, aku bergerak menghampirinya. Tanganku menangkap kedua wajahnya yang bersih dan tampan. "Mungkin mereka membuat kesalahan, tetapi kita tidak, Rue."

Mata Rue panas dan bergetar karena rasa sedihnya dan betapa hancurnya hatiku saat ini. Teramat menyangsikan bagaimana kedua orangtuaku tidak melihat sebagaimana caraku memandang sesuatu—sementara aku lahir dari mereka. Rue teramat tampan dan bagaimana Victor dan Caroline tidak mengerti bahwa akan muncul model luar biasa yang akan menghiasi papan reklame dan majalah-majalah dalam beberapa tahun ke depan. Aku mengerang dalam hati, bersyukur, karena menyerah tidak terwarisi dalam darahku.

"Rue, suatu saat mereka akan datang kembali dan memelukmu. Mereka akan mengatakan bagaimana luar biasa anak-anak mereka nanti. Tetapi untuk sekarang aku akan berjanji kalau aku akan terus menjaga kalian meskipun kalian nantinya muak dengan diriku. Aku tidak peduli. Aku tidak akan selemah mereka. Ini janjiku untuk kalian, Rue."

Rue menggapai tanganku di wajahnya. "Kita akan bersama-sama menjaganya,"

Mataku bersinar di balik bulu mataku. Aliran semangat dan tak keputusasaan dari Rue sudah cukup membuatku merasa tenang dan bahagia. "Terima kasih. Sekarang kau bisa membangunkan Niel dan Isela. Aku akan menyiapkan sarapan."

Anak muda itu mundur sementara aku berbalik untuk menguasai ruangan yang kini diasetkan penuh untukku. Aku memandang berkeliling dapur dan berbalik sewaktu mendengar Rue memanggilku di ambang pintu. "Miranda?"

Aku bergidik tipis. "Ya?"

"Senyumlah,"

Dadaku bergerak mengeluarkan kekehan kemudian menarik ujung bibir untuk tersenyum. "Untuk kalian."

Aku meraih tas dan melangkah buru-buru meninggalkan rumah. Beberapa menit sebelumnya, aku melambaikan tangan pada Neil dan Isela ketika Rue membawa mereka ikut bersamanya ke dalam bus jemputan. Napasku terembus berat mengingat bahwa apa pun untuk bisa tetap hidup di kota besar—tidak peduli kau tinggal di bagian pinggiran kota yang berdenyut dan ingar-bingar ini, tentu saja kau membutuhkan uang.

Sementara melangkah menuju keluar pemukiman, aku mengumpat karena Victor membawa mobil yang seharusnya menjadi tumpangan kami bukan untuk selingkuhannya dan aku sangat berhasrat untuk mencakar wajah wanita seksi itu apabila suatu saat aku menemuinya.

Terlebih mengingat bagaimana aku dipecat dari restoran hanya karena aku menolak memberikan nomor pribadiku pada pria sialan sok kaya dan mata keranjang—menyerang kesadaranku kalau tabunganku akan segera habis apabila aku tidak mencari kesempatan di tempat lain.

Aku tidak menghitung berapa banyak aku sudah melangkah, napasku terembus cepat. Lalu secepatnya menyetopkan taksi dengan ujung jariku. Bertukar sebelumnya menghemat biaya transportasi dan sekarang menghemat tenagaku.

Tanpa basi-basi memikirkan masalah-masalah yang menyerang hidupku, aku melompat keluar setelah mengeluarkan beberapa dollar untuk seseorang yang juga berjuang untuk tetap hidup di kota gila ini.

Rambutku langsung saja diterpa angin ketika aku berhadapan dengan gedung tinggi di hadapanku di mana Ways Life bermarkas bersama beberapa perusahaan lain di dalamnya. Beberapa bulan yang lalu aku mendatangi tempat ini dan itu bukan berarti aku tidak pernah mengunjunginya lagi.

Aku selalu mengunjunginya karena Paul ada di sana. Jika tidak ada pria berambut pirang itu di sana, juga dalam hidupku, aku tidak tahu apakah aku saat ini masih bisa berdiri di depan gedung di hadapanku ini ataukah di belahan dunia mana sementara aku mungkin sudah gila.

Sepatuku berdentum dengan lantai yang mengilap , secepat mungkin ingin tiba di kantor Paul. Aku menaiki lift lalu keluar dan membelok menjumpai resepsionis. Aku bertanya padanya tentang luang waktu kerja Paul seolah-olah aku tidak mengerti bagaimana padatnya pekerjaan kantor di pagi hari.

Tetapi Paul tidak pernah mengecewakanku. Wanita cantik dan sopan di hadapanku menyilakanku dengan cara yang baik. Tanpa mengetuk, aku memasuki sebuah ruangan dan wanita itu lenyap dari sisiku.

Aku duduk dan mengeluh pada pria bersetelan jas berwarna perak yang teramat licin dan mahal di hadapanku. "Paul," Napas yang keluar bersama ucapanku terlalu merintih.

Dia tertawa sehangat kopi yang tertandak di meja kerjanya. "Dengan senang hati," Paul menumpangkan tangannya di permukaan meja sementara mengetukkan jemarinya di sana. "Kau ingin di mana?"

Paul adalah staf promosi di Ways Life tetapi entah bagaimana ajaibnya dia bisa mengantarkanku ke depan gedung mana pun yang kuinginkan andai aku memilihnya. Tetapi aku masih sadar kalau aku terhalang oleh pendidikanku yang sebatas menengah atas.

"Aku tidak akan pernah meminta pekerjaan tinggi. Aku hanya menginginkan untuk bisa mencukupi kebutuhan sekolah adik-adikku dan di rumah."

Ways Life adalah perusahaan penyedia permintaan pekerja andal yang selalu digunakan oleh perusahaan-perusahaan bergengsi di bagian dari negara ini. Jika kau bukan anggota keluarga atau kerabat jauh atau sahabat dari pemilik atau pun orang penting di gedung-gedung tinggi yang menjulang di setiap jalan pusat kota, kau harus melewati berbagai seleksi yang panjang, ketat, serta melelahkan untuk mendapatkan pekerjaan.

"Apa kau ingin kembali menjadi pelayan?" kata Paul mendadak serius.

Aku memahami rautnya dan sudah pasti ada sesuatu yang menarik di balik kernyitan di keningnya. "Dan ada sesuatu yang menyenangkan yang bisa kudengar sebagai hiburanku di pagi ini karena kau sudah pasti tidak hanya akan berbicara sebatas formalitas pelayan saja."

"Tetapi untuk pekerjaan itu," Aku mengangkat bahu. "ya, aku menerimanya dan kirim aku secepatnya."

Mata Paul berbinar. "Ah, baby girl. Aku memang akan mengirimkanmu ke sana dan berharap hidupmu akan segera berakhir bahagia. Cindrella akan menemukan pangerannya."

Aku mengerjap. "Apa? Siapa—aku...." Aku mengela napas. "Come one, Paul. Tidak ada waktu menikmati romantisme untukku saat ini."

Paul tersenyum kelewat santai. "Apa salahnya melakukan keduanya dengan sekali jalan?"

Aku semakin tidak mengerti melihat alis Paul yang terangkat dengan gembira. Menunjukkan kalau dirinya seolah sedang melihat pernikahanku di depan matanya. Aku mengulurkan tangan meraih gelas kopinya. Aku menyesap dan meredakan kerongkonganku yang tercekat.

Gelas itu kuturunkan kembali dan berkata, "Jelaskan."

Paul mengubah raut lebih serius tetapi aku masih dapat mengenali sikap ramahnya. "Aku akan mengirimkanmu ke rumah miliuner. Dia membutuhkan pelayan dan aku yakin akan ada cinta di sana."

"Kau bercanda, kau membuatku benar-benar seperti Cindrella?!" bantahku. Terkejut. Terkesiap.

Paul menggumam. "Kau berbohong kalau kau tidak menginginkan seks sebagaimana kau menginginkan uang. Percayalah, kau akan terjerat padanya dan kalian berdua akan saling terjerat. Kau akan menjadi pelayan dirinya selamanya."

"Memanfaatkan bukan sifatku." Aku mencetus padanya.

Paul tersenyum dan memajukan dada demi tangannya menyentuh puncak rambutku. "Untuk itu tadi kukatakan akan ada cinta di sana. Tidak ada yang saling memanfaatkan. Percayalah, aku tahu semua sifatmu dan tipemu. Cassilas Susnjar adalah salah satu bagian dari keteguhan dalam dirimu."

Aku menggeleng resah sementara Paul memutar layar monitornya padaku. Dengan mendebarkan dia menampilkan profil luar biasa jantan dan menjeritkan seks yang keras. Meski setelan tiga lapis membungkus tubuhnya, aku bahkan bisa merasakan betapa keras dan hebatnya tubuh tuan itu.

Tenggorokanku terasa panas sementara Paul menyindiriku dengan cengiran lebarnya. "Kau menginginkan pria keras untuk menidurimu dan merenggut percintaanmu yang pertama. Lakukan dan kau mungkin beruntung karena dia bisa menyerahkanmu sebagian aset mewah di Ceberon Berg City,"

Aku tidak tebersit ingin naik ke ranjang karena uang. Satu-satunya keinginanku hanya karena gairah dan aku masih belum bisa menemukan pria tepat untuk itu. Lagipula aku masih dua puluh tiga dan sulit menemukan pria yang pantas yang bisa kupercaya untuk tidur bersamaku. Tetapi sekali lagi, Paul benar. Pria itu membangkitkan hasratku secepat kilat yang meledak di langit.

Namun aku mengeluh dan tidak dapat melanjutkannya ketika Paul sudah memutuskan. Dia tahu yang terbaik untukku dan aku tahu dia tidak pernah berniat apa pun padaku selain untuk membantuku. "Aku hanya butuh pekerjaan, Paul. Romantisme di siaran tv bisa menghiburku."

"Tentu saja kau akan bekerja, baby girl. Di kediamannya. Siapkan dirimu." Paul menukaskan sementara aku menggigit bibir. Tidak ada pilihan lain apabila melihat Paul bersemangat dan gembira seperti itu. Terkutuklah aku apabila mengecewakannya. TO BE CONTINUE